Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonomi Singapura Terkontraksi di Kuartal I/2023, Warning Resesi!

Pertumbuhan ekonomi Singapura pada kuartal I/2023 terkontraksi 0,4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Singapura/Pegipegi
Singapura/Pegipegi

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonomi Singapura terancam mengalami resesi setelah mengalami kontraksi pada kuartal I/2023.

Dilansir dari Reuters pada Kamis (25/5/2023), badan statistik Singapura melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) naik 0,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Namun, pertumbuhan ekonomi kuartal I/2023 terkontraksi 0,4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (qtq), berbalik dari pertumbuhan 0,1 persen pada kuartal IV/2022.

Kontraksi yang dialami Singapura membuat negara ini berisiko mengalami resesi teknis jika terjadi kontraksi lagi pada kuartal II/2023.

Singapura bergantung pada arus perdagangan untuk menjaga ekonominya tetap berdenyut, meskipun permintaan eksternal melandai menyusul kenaikan suku bunga dan tekanan inflasi yang masih kuat.

Ekonom Maybank Chua Hak Bin mengatakan resesi teknis yang berarti kontraksi selama dua kuartal berturut-turut mungkin terjadi jika dorongan dari pembukaan kembali China gagal terwujud pada kuartal kedua.

"Kembalinya turis-turis China lebih merupakan ‘riak kecil daripada banjir," katanya.

Kementerian Perdagangan Singapura memperkirakan resesi teknis tahun ini tidak akan terjadi, namun mereka mengakui bahwa prospek permintaan eksternal untuk sisa tahun ini telah melemah.

Kepala ekonom Kementerian Perdagangan Yong Yik Wei mengatakan bahwa pemerintah memperkirakan pertumbuhan kuartalan yang rendah di paruh pertama tahun ini dan peningkatan momentum setelahnya.

"Namun jelas, mengingat risiko-risiko penurunan dan prospek yang melemah, kami tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa akan ada beberapa kuartal dengan pertumbuhan qtq negatif tahun ini," ungkapnya.

Secara terpisah, bank sentral Singapura atau Singapore Monetary Authority mengatakan bahwa kebijakan moneternya saat ini sudah tepat namun tetap mengawasi tren pertumbuhan dan inflasi.

Bank sentral tidak mengubah kebijakan moneter bulan lalu, setelah melakukan pengetatan lima kali berturut-turut sejak Oktober 2021, termasuk dalam dua langkah di luar siklus tahun lalu pada Januari dan Juli.

Kementerian Perdagangan mempertahankan perkiraan pertumbuhan PDB sebesar 0,5 persen hingga 2,5 persen tahun ini, dengan pertumbuhan kemungkinan besar akan berada di sekitar titik tengah kisaran tersebut.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper