Ekonomi Global Tertekan, Nilai Tukar Rupiah Dipatok Rp14.700-Rp15.300 pada 2024

Pemerintah menetapkan nilai tukar rupiah Rp14.700 hingga Rp15.300 per dolar AS pada tahun depan melihat kondisi ekonomi global yang masih tertekan.
Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer, Jakarta, Sabtu (30/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer, Jakarta, Sabtu (30/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah mematok nilai tukar rupiah pada 2024 berada di kisaran Rp14.700 hingga Rp15.300 per dolar Amerika Serikat (AS). Asumsi tersebut diambil seiring dengan tertekannya perekonomian global usai dihantam pandemi Covid-19. 

Hal itu tertuang dalam dokumen kerangka kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dinamika global saat ini berjalan begitu cepat usai menghadapi pandemi pada 2020 silam. Pesatnya laju tersebut secara simultan menciptakan kompleksitas bagi tiap negara pada tahun-tahun mendatang. 

Salah satu yang menjadi faktor penyebab adalah memanasnya tensi geopolitik global. Kondisi ini, kata Sri Mulyani, membuat negara-negara besar mengubah arah kebijakan ekonomi sehingga berimbas terhadap perekonomian dunia. 

“Prospek pasar keuangan domestik, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah dan yield surat berharga pemerintah akan sangat dipengaruhi dinamika global,” ujarnya dalam Rapat Paripurna di DPR RI, Jumat (19/5/2023). 

Di tengah dinamika global yang berjalan cepat, pemerintah menetapkan nilai tukar rupiah di kisaran Rp14.700 hingga Rp15.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 2024. Sementara itu, dengan suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun antara 6,49 – 6,91 persen.

Asumsi itu diambil mengingat perekonomian global pada tahun ini masih tertekan, terlihat dari laju inflasi global yang belum berada di level normal rendah. Hal ini kemudian membuat suku bunga acuan global tertahan pada tingkat tinggi. 

“Konsekuensinya likuiditas global akan ketat, cost of fund menjadi tinggi, dan ruang kebijakan di banyak negara semakin terbatas. Gejolak perbankan yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa menambah risiko ketidakpastian akibat kondisi ini,” pungkasnya. 

Kombinasi tersebut, menurut Menkeu, menyebabkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia akan cenderung melemah. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari semula 2,9 persen menjadi 2,8 persen pada tahun ini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper