Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pejabat The Fed: Ada Perdebatan Sebelum Keputusan Suku Bunga Acuan

Pejabat The Fed wilayah Atlanta Raphael Bostic mengungkap adanya perdebatan sebelum keputusan menaikkan suku bunga acuan 25 Bps minggu ini.
Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg/Samuel Corum
Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg/Samuel Corum

Bisnis.com, JAKARTA - Pejabat Federal Reserve (The Fed) wilayah Atlanta Raphael Bostic mengatakan ada drama atau perdebatan jelang keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin minggu ini di tengah krisis perbankan AS.

"Ada banyak perdebatan, ini bukanlah keputusan yang mudah. Namun pada akhirnya, apa yang kami putuskan adalah bahwa ada tanda-tanda yang jelas bahwa sistem perbankan sehat dan tangguh," ujar Bostic dikutip dari Bloomberg, Jumat (24/3/2023).

Dia mengungkapkan keputusan menaikkan suku bunga acuan mempertimbangkan kondisi inflasi di AS yang masih terlalu tinggi.

Menurut Bostic, runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) kurang dari dua minggu sebelum pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Comitee (FOMC) menciptakan banyak ketidakpastian dan beberapa pembuat kebijakan berdebat untuk menunggu daripada menaikkan suku bunga

"Saya merasa nyaman dengan gagasan bahwa kita tidak melihat selama akhir pekan sebelum pertemuan itu keadaan menjadi lebih buruk. Hal itu membuat saya nyaman bahwa kita dapat mengatasi hal ini," kata Bostic.

Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan kepada wartawan dalam konferensi pers pasca pertemuan pada Rabu (22/3/2023) bahwa pertanyaan tentang jeda telah dipertimbangkan pada hari-hari sebelum pertemuan, tetapi selama pertemuan konsensus untuk kenaikan sangat kuat.

"Saya tekankan bahwa sistem perbankan AS sehat dan tangguh," ucap Jerome Powell.

Seperti diketahui, The Fed menaikkan target suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) atau 0,25 persen ke kisaran 4,75 persen-5 persen, atau level tertinggi sejak Oktober 2007.

Dalam pernyataan resmi setelah menggelar pertemuan (FOMC) 21-22 Maret 2023, The Fed mengatakan inflasi tetap tinggi dan bank sentral tetap sangat memperhatikan risiko inflasi.

Di sisi lain masalah perbankan dapat menyebabkan kondisi kredit mengetat dan membebani pertumbuhan ekonomi.

The Fed menegaskan komite bank sentral mengantisipasi bahwa beberapa penguatan kebijakan tambahan mungkin tepat untuk mencapai sikap kebijakan moneter yang ketat demi mengembalikan inflasi menjadi 2 persen dari waktu ke waktu.

Pejabat Fed juga tidak mengubah seberapa tinggi proyeksi mereka terhadap kenaikan suku bunga, mempertahankan suku bunga puncak untuk tahun ini dalam kisaran 5 persen-5,25 persen, sama seperti yang diproyeksikan pada Desember 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper