Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Beras Bulog Dioplos, Bapanas Minta Pengawasan Diperketat

Bapanas meminta agar pengawasan distribusi beras Bulog semakin diperketat menyusul diringkusnya tujuh orang tersangka pengoplosan beras.
Buruh melakukan bongkar muat karung berisi beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Senin (30/1/2023). Bisnis/Rachman
Buruh melakukan bongkar muat karung berisi beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Senin (30/1/2023). Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) meminta agar pengawasan pendistribusian beras Perum Bulog diperketat seiring ditemukannya kasus pengoplosan beras oleh sejumlah oknum. 

Bapanas mengapresiasi Satgas Pangan yang berhasil menangkap tujuh tersangka yang kedapatan melakukan dan terlibat pengoplosan beras Bulog.

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menyampaikan, pihaknya mendukung penuh langkah Satgas Pangan dalam penegakan hukum terhadap para pedagang atau distributor yang melakukan penyalahgunaan beras Perum Bulog.

“Beras Bulog tersebut didistribusikan oleh pemerintah untuk menjaga stabilisasi pasokan dan harga di tingkat konsumen, bukan untuk dimanfaatkan demi keuntungan pribadi atau kelompok tertentu,” tegasnya melalui keterangan tertulis, dikutip Minggu (12/2/2023).

Dengan adanya aksi penangkapan tersebut, Bapanas meminta agar pengawasan semakin diperketat guna memastikan agar beras untuk stabilitas pasokan dan harga pangan (SPHP) bisa dijangkau masyarakat dengan harga sesuai harga eceran tertinggi (HET).

Dia juga menegaskan, harga beras yang digelontorkan Perum Bulog ke pasar sudah dipatok dengan jelas. Untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi, harga di gudang Bulog adalah Rp8.300 per kg, di pasar induk atau pasar besar Rp8.900 per kg, dan di pasar kecil atau pedagang lainnya Rp9.450 per kg.

Jika masih ada pihak yang dengan sengaja mengambil keuntungan dari pendistribusian beras Bulog tersebut dengan menjual beras di atas HET, maka itu sudah masuk ranah pelanggaran hukum.

“Apa yang dilakukan teman-teman Satgas Pangan dengan melakukan penangkapan saya kira sudah tepat agar memberikan efek jera,” ujarnya.

Saat ini, Bapanas melalui Perum Bulog terus menggelontorkan beras untuk meredam harga beras di pasaran. Namun, adanya penyelewengan semacam ini justru menghambat proses penyaluran beras di pasaran.

“Untuk menekan agar harga beras bisa turun, saat ini yang terpenting adalah eksekusi dan pengawasan SPHP di lapangan. Karena langkah-langkah strategis untuk menstabilkan harga beras sudah dan terus kita lakukan. Kita dukung Satgas Pangan semakin masif melakukan pengawasan,” ungkap Arief. 

Sebagaimana diketahui, Satgas Pangan Polda Banten pada Jumat (10/2/2023), mengumumkan penangkapan tujuh orang pengoplos beras Bulog di berbagai daerah di wilayah hukum Polda Banten, termasuk Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang.

Pelaku diketahui melakukan pengemasan ulang beras Perum Bulog menjadi beras premium dengan berbagai merek. Beras tersebut kemudian dipasarkan kembali dengan harga yang lebih tinggi di atas HET.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper