Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

LPEM UI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,19 Persen pada 2022

Simak proyeksi LPEM UI yang meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 mencapai 5,19 persen.
Suasana deretan gedung bertingkat dan perumahan padat penduduk di Jakarta, Senin (4/7/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Suasana deretan gedung bertingkat dan perumahan padat penduduk di Jakarta, Senin (4/7/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai kisaran 5,18 hingga 5,20 persen, dengan titik tengah 5,19 persen, pada 2022.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menyampaikan bahwa sepanjang 2022, Indonesia menghadapi ancaman inflasi yang tinggi akibat lonjakan harga komoditas sehingga diperlukan penyesuaian harga BBM.

Meski demikian, tekanan inflasi pada 2022 lebih rendah dari perkiraan awal dan masih relatif terjaga, didukung oleh kebijakan isasi inflasi yang terkoordinasi dengan baik oleh BI dan Pemerintah Indonesia. 

Menurut Riefky, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV/2023 mungkin tidak akan mencapai 5 persen karena menghilangnya low-base effect dan harga komoditas yang lebih rendah pada akhir tahun dibandingkan dengan dua kuartal sebelumnya pada 2022. 

“Meski demikian, perekonomian masih akan tumbuh pada wilayah positif di 4,56 persen secara tahunan pada kuartal IV/2022, sehingga membuat estimasi full year 2022 sebesar 5,19 persen,” katanya, Jumat (3/2/2023).

Riefky mengatakan, PDB Indonesia yang tercatat tumbuh 5,72 persen secara tahunan pada kuartal III/2022 telah mencapai level tertingginya dalam sepuluh tahun terakhir dan mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari ekspektasi selama tiga kuartal secara beruntun. 

Pada saat itu, perekonomian dunia sedang dibayangi permasalah inflasi yang cukup serius akibat meroketnya harga energi dan komoditas. Hal ini mengakibatkan pengetatan kebijakan oleh berbagai bank sentral untuk menghambat laju inflasi, sehingga menekan permintaan domestik dan memperlambat aktivitas ekonomi. 

Sebaliknya, imbuh Riefky, Indonesia yang diberkahi surplus komoditas mampu mendapatkan windfall profit yang kemudian digunakan untuk menambah alokasi anggaran subsidi dan menunda kenaikan harga BBM hingga penghujung kuartal III/2022. 

“Oleh karena inflasi domestik yang masih terkendali, BI cenderung tertinggal dalam melakukan pengetatan moneter. Sehingga, permintaan dan aktivitas produksi cenderung masih solid,” jelasnya.

Indikator Ekonomi 

Sebagaimana diketahui, BI secara total menaikkan suku bunga acuan sebesar 200 basis poin pada 2022. Riefky berpendapat, dampak dari tingkat suku bunga yang lebih tinggi pada sektor riil mungkin akan terbatas dalam waktu dekat karena kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian domestik masih tinggi. 

Beberapa indikator lainnya yang mendukung pertumbuhan ekonomi, diantaranya kinerja ekspor dan investasi yang menguat pada 2022.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sebesar Rp314,8 triliun pada kuartal IV/2022. Riefky mengatakan, rekor baru lainnya dalam satu dekade terakhir, membawa realisasi investasi Indonesia pada 2022 menjadi Rp1.207,2 triliun. 

Realisasi investasi pada 2022 tersebut meningkat sebesar 33,98 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp901,02 triliun. 

Selain itu, ekspor pada kuartal IV/2022 tumbuh 8,06 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, mendorong pertumbuhan ekspor keseluruhan tahun 2022 sebesar 26,11 persen. 

Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan pada kuartal IV/2022 tercatat sebesar US$14,6 miliar dengan total surplus US$54,5 miliar untuk sepanjang 2022. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper