Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Bos Pertamina: IPO Pertamina Geothermal Energy (PGE) Bulan Depan

Dirut Pertamina memastikan IPO PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) bakal berlangsung bulan depan.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 31 Januari 2023  |  20:13 WIB
Bos Pertamina: IPO Pertamina Geothermal Energy (PGE) Bulan Depan
Nicke Widyawati. - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, memastikan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) dari PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) bakal berlangsung bulan depan.

Nicke mengatakan rencana PGE bakal terlebih dulu melakukan IPO pada Februari 2023. Kemudian, disusul oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) yang rencananya akan melakukan IPO pada paruh pertama tahun ini.

“Mungkin yang pertama [IPO] PGE, insyaallah kalau tidak ada halangan bulan depan. Kemudian nanti akan dilanjutkan dengan yang PHE,” kata Nicke saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII di DPR, Jakarta, Selasa (31/1/2023).

Nicke mengatakan rencana PGE dan PHE melakukan IPO untuk menghimpun dana murah dari masyarakat untuk dapat mengakses pasar yang lebih luas di masa mendatang.

Di sisi lain, dia mengungkapkan bahwa pemegang saham perseroan meminta adanya peningkatan kapitalisasi pasar atau market cap dari holding Pertamina nantinya.

“Pemegang saham memberikan target untuk meningkatkan market cap atau value of company, kami melakukan unlock value di semester I tahun ini,” ujarnya.

Hanya saja, dia belum dapat memerinci berapa porsi saham yang akan dilepas ke publik nanti. Dia beralasan informasi tersebut masih belum mendapat persetujuan dari pemegang saham untuk disampaikan secara terbuka.

“Mengenai berapa yang dilepas ke pasar barangkali akan kami sampaikan dalam kesempatan lain karena kami belum dapat persetujuan dari pemegang saham,” kata dia.

Sebelumnya, Kementerian BUMN menerangkan rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) ditunda menjadi kuartal I/2023 dari semula tahun ini karena sentimen suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve.

Wakil Menteri I BUMN Pahala N. Mansury mengakui terjadi penundaan salah satu rencana IPO PGE dari target awal yang diharapkan bisa selesai pada 2022.

"Melihat perkembangan pasar modal global ada kondisi market belum optimal sehingga penundaan terlebih dahulu jadi ada stabilitas, dari kebijakan The Fed, akan berpengaruh ke pasar modal ekuitas di Indonesia dan negara lain," jelasnya dalam Rapat Kerja di Komisi VI DPR, Rabu (7/12/2022).

Menurutnya, kenaikan suku bunga The Fed membuat pasar ekuitas terutama di emerging market seperti Indonesia cukup terganggu, sehingga memutuskan terjadi penundaan IPO PGE. Kemudian, siklus kenaikan suku bunga The Fed terlihat sudah memasuki babak akhir pada tahun ini.

Kenaikan suku bunga The Fed yang sudah mulai melambat ini menjadi landasan Pahala menilai 2023 menjadi momentum yang baik untuk anak BUMN masuk ke pasar modal.

"Kemungkinan terjadi kenaikan 25-50 bps lagi, dengan perlambatan itu diharapkan akan memberikan pengaruh dan menjadi sentimen positif bagi investor ekuitas, terutama karena di Indonesia masih cukup besar kontribusi ekuitas dari luar negeri," tuturnya.

PGE salah satu perusahaan energi panas bumi terbesar di dunia berdasarkan total kapasitas terpasang. Saat ini PGE memiliki kapasitas sebesar 672 megawatt, targetnya dalam 5 tahun ada penambahan kapasitas 600 megawatt.

Apalagi, PGE sudah memegang sejumlah kontrak pengadaan tenaga listrik dengan PLN. Dalam prosesnya, PGE sedang menyampaikan usulan rentang harga IPO kepada OJK. 

"Dengan rencana penambahan 600 megawatt 5 tahun ke depan, ini menjadi quick win bagi pertumbuhan PGE di EBT, saat ini prosesnya sudah pendaftaran ke OJK, di tahap ke-1 dan ke-2. Target pelaksanaan di kuartal I/2023," jelas Pahala.

Pahala menambahkan berdasarkan laporan keuangan per 2021, pendapatan PGE tercatat US$369 juta setara Rp5,71 triliun (kurs Rp15.500) dengan EBITDA marjin 78,7 persen. Angka EBITDA margin tersebut menurutnya cukup menggiurkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina ipo pertamina geothermal energy pertamina hulu energi
Editor : Fitri Sartina Dewi

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top