Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ramalan Resesi Ekonomi 2023 Versi Bank Dunia, ADB, hingga IMF

Berlanjutnya perang Rusia-Ukraina, disrupsi rantai pasok global, inflasi, hingga kenaikan suku bunga masih menjadi faktor risiko perekonomian global.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 27 Desember 2022  |  17:09 WIB
Ramalan Resesi Ekonomi 2023 Versi Bank Dunia, ADB, hingga IMF
Ilustrasi resesi ekonomi global 2023 - Freepik

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah lembaga internasional memperkirakan ekonomi global masih akan menghadapi tantangan berat pada 2023.

Masih berlanjutnya perang Rusia dan Ukraina, disrupsi rantai pasok global, tingginya volatilitas harga komoditas, lonjakan inflasi, hingga kenaikan suku bunga secara agresif masih akan menjadi faktor risiko bagi perekonomian global tahun depan.

Laju inflasi tinggi di negara maju yang diperkirakan berlangsung lebih lama harus direspons oleh kebijakan moneter yang lebih ketat. Kenaikan suku bunga, terutama oleh the Fed, bank sentral Amerika Serikat (AS) diperkirakan tetap berlanjut pada 2023 dan tetap tinggi dalam waktu yang lama.

Kebijakan moneter yang lebih ketat dari perkiraan sebelumnya ini berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi, terutama di negara maju. Bahkan, sejumlah negara utama dunia berpotensi mengalami resesi ekonomi.

Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi global berpotensi tumbuh di bawah 3 persen, jauh melambat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini.

Tak hanya negara maju, perkembangan ekonomi global juga menambah ketidakpastian bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Berikut adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2023 dari beberapa lembaga internasional:

IMF

international Monetary Fund (IMF) atau Dana moneter Internasional memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan mencapai 2,7 persen tahun depan, melambat dari 3,2 persen pada 2022.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyampaikan bahwa sejumlah indikator telah menunjukkan adanya potensi penurunan pertumbuhan ekonomi global yang akan terus berlanjut.

Kristalina menyoroti ancaman krisis global yang dapat terjadi pada tahun depan. Tingginya harga pangan dan energi, serta masih tingginya laju inflasi di banyak negara berisiko menimbulkan resesi global pada 2023.

IMF pun memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara maju, yatu menjadi 1,1 persen pada 2023, dari tahun ini yang diperkirakan tumbuh 2,4 persen.

Sementara itu, ekonomi negara berkembang diperkirakan tumbuh stagnan sebesar 3,7 persen pada 2023 dibandingkan dengan pertumbuhan pada tahun ini.

Di sisi lain, IMF menilai Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat sehingga mampu menghadapi risiko global dengan baik. Menurut Kristalina, perekonomian Indonesia relatif lebih baik daripada negara-negara lain.

"Saya yakin Indonesia akan melewati tahun depan dalam posisi yang jauh lebih kuat daripada negara lain. Kami memprediksi untuk 2022 pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,3 persen. Dan untuk tahun depan pertumbuhan akan sedikit lebih lambat menjadi 5 persen. Itu masih dua kali lipat lebih tinggi dari negara-negara lain," katanya, beberapa saat lalu.

Namun demikian, IMF menilai pemerintah Indonesia tetap harus mewaspadai perlambatan ekonomi global yang berisiko melemahkan permintaan dari negara-negara mitra dagang, sehingga impor Indonesia berpotensi terdampak.

Selain itu, pergerakan nilai tukar juga dapat terdampak oleh kondisi negara-negara raksasa ekonomi, terutama AS dan China.

OECD

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,2 persen pada 2023.

Dalam laporan terbaru OECD, disebutkan bahwa perekonomian global menghadapi tantangan yang semakin berat. Pertumbuhan ekonomi dunia telah kehilangan momentum, terbukti dari inflasi yang terus meningkat, melemahnya kepercayaan konsumen, dan ketidakpastian yang semakin tinggi.

"Perang Rusia vs Ukraina telah mendorong kenaikan harga secara substansial, terutama untuk energi, menambah tekanan inflasi pada saat biaya hidup sudah meningkat pesat di seluruh dunia," tulis OECD dalam laporannya.

The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengungkapkan kondisi keuangan global telah mengetat secara signifikan, di tengah langkah-langkah yang luar biasa gencar dan marak untuk menaikkan suku bunga kebijakan oleh pusat bank dalam beberapa bulan terakhir.

Kebijakan tersebut telah membebani pengeluaran yang sensitif terhadap bunga dan menambah tekanan yang dihadapi oleh banyak ekonomi pasar berkembang.

OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2022 mencapai 3,1 persen. Proyeksi tersebut hanya setengah dari pertumbuhan yang terlihat pada tahun 2021 selama pemulihan dari pandemi.

"Ekonomi global diproyeksi melambat menjadi 2,2 persen pada 2023, jauh di bawah tingkat yang diperkirakan sebelum perang Rusia vs Ukraina meletus," tulis OECD.

Halaman:
  1. 1
  2. 2

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Resesi resesi ekonomi imf oecd bank dunia ADB
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top