Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Alasan Pasar Real Estat Global Mulai Stabil di Kuartal II/2023

Pasar real estat global akan menunjukkan stabilitas pertumbuhan di pertengahan 2023
Afiffah Rahmah Nurdifa
Afiffah Rahmah Nurdifa - Bisnis.com 09 Desember 2022  |  12:03 WIB
Alasan Pasar Real Estat Global Mulai Stabil di Kuartal II/2023
Ilustrasi investasi properti dan real estat - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pasca pandemi Covid-19, pasar real estat secara global mengalami perlambatan. Apalagi dengan adanya inflasi dan kenaiakn suku bunga yang semakin membebani pemangku kepentingan di sektor ini.

Melihat kondisi tersebut, Colliers sebagai perushaaan manajemen investasi real estat menilai stabilitas pasar akan berlangsung pada pertengahan 2023. Hal ini didorong oleh lebih banyaknya kepastian akan tingkat suku bunga dan prospek ekonomi ke depan.

Direktur Eksekutif dan Kepala Modal Internasional Colliers John Howald menerangkan, saat ini para investor properti berada di tengah tekanan biaya yang meningkat. Untuk itu, mereka wait & see melihat peluang dan kondisi ekonomi saat ini.

Perhatian investor masih terfokus pada pengelolaan strategi untuk bertahan dan mejaga stabilitas, sebelum nantinya melakukan pertumbuhan.

Kecepatan investor mendapatkan aset ke posisi stabil akan menjadi kunci untuk mendorong momentum positif, dan peningkatan aktivitas pasar. Namun, tantangannya adalah pasar tetap rentan terhadap guncangan dan peristiwa lebih lanjut memiliki kapasitas untuk memicu langkah mundur, sebanyak mendorong pasar ke depan

Berdasarkan Colliers 2023 Global Investor Survey ada tiga tantangan negatif yang paling dikhawatirkan dan diproyeksi dapat berpengaruh pada perubahan strategi real estat di tahun 2023.

Pertama, 88 persen investor mengkhawatirkan akan tingkat suku bunga yang terus meningkat. Kedua, 74 persen investor khawatir akan inflasi yang menambah biaya konstruksi, serta 68 persen investor cemas akan terganggunya rantai pasokan.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa kenaikan biaya konstruksi dan biaya operasi aset yang lebih tinggi adalah dua faktor pasar teratas yang diperkirakan memiliki dampak paling negatif terhadap kemampuan investor untuk mengejar strategi investasi, baik secara global maupun di Asia Pasifik

Lebih dari setengah (59 pesen) investor Asia Pasifik mengatakan kenaikan biaya konstruksi memiliki pengaruh paling negatif, diikuti oleh biaya operasional aset yang lebih tinggi (53 persen).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

real estat properti bisnis properti
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top