Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Liburan Akhir Tahun Jadi Berkah Industri Makanan dan Minuman, Asalkan...

Industri makanan dan minuman sejauh ini menghadapi tekanan pasar serta terganggunya pasokan bahan baku impor.
Salah satu fasilitas produksi industri makanan. Istimewa/ Kemenperin
Salah satu fasilitas produksi industri makanan. Istimewa/ Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA- Industri makanan dan minuman (mamin) berpotensi kehilangan momentum liburan akhir tahun yang biasanya meningkatkan permintaan. 

Industri makanan dan minuman sejauh ini dipaksa mengatur strategi harga serta mengamankan pasokan bahan baku, terutama gandum. Hal ini seiring dampak gangguan rantai pasok global, hingga ancaman daya beli masyarakat yang melemah.  

Menurut ekonom Celios Bhima Yudhistira, terdapat 3 hal yang bisa dilakukan oleh pelaku industri mamin di Tanah Air. Pertama, melakukan substitusi impor untuk memastikan ketersediaan bahan baku industri, terutama gandum.

"Sebab, beberapa pelaku industri mamin sangat bergantung kepada pasokan gandum dari luar negeri. Untuk itu perlu didorong melalui diversifikasi bahan baku," kata Bhima, Senin (14/11/2022). 

Pada Mei 2022, sejumlah negara menghentikan ekspor gandum menyusul dengan kian memanasnya perang Rusia-Ukraina. Pada bulan yang sama, survei penjualan eceran Bank Indonesia (BI) menunjukkan penjualan mamin dan tembakau di Indonesia pun tumbuh negatif -1,6 persen.

Kondisi semakin parah pada bulan selanjutnya di mana penjualan makanan dan minuman di Indonesia mengalami pertumbuhan negatif yang cukup dalam hingga ke angka -13 persen pada Juni 2022.

Beberapa negara yang melarang ekspor gandum di antaranya Ukraina, India, Kosovo, Afghanistan, Serbia, Aljazair, dan Kazakhstan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Ukraina merupakan negara eksportir gandum terbesar kedua ke Indonesia dengan nilai mencapai US$843,61 juta pada 2021.

Negara pengekspor gandum terbesar ke Tanah Air lainnya adalah Australia senilai US$1,45 miliar, Kanada US$639,9 juta, Argentina US$169,52 juta, Amerika Serikat (AS) US$134,71 juta, dan negara lainnya senilai US$209,2 juta.

Selain substitusi impor untuk memastikan ketersediaan pasokan bahan baku, Bhima menilai pelaku industri mamin perlu pula menyesuaikan harga produk dengan daya beli masyarakat yang terancam inflasi.

Perusahaan mamin, lanjutnya, perlu mengambil langkah seperti memperkecil ukuran produk tanpa menaikkan harga. Selain dapat mengurangi ongkos produksi, cara tersebut dinilai mampu menjaga sisi permintaan.

Dengan kata lain, industri mamin di Tanah Air tidak kehilangan momentum akhir tahun setelah tercatat mengalami pertumbuhan negatif dari sisi penjualan eceran di sebanyak 6 bulan dalam periode Januari - September 2022.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rahmad Fauzan
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper