Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ada Potensi Investasi Rp200 Triliun di Industri Petrokimia, Ini Jadi Tantangan

Kementerian Perindustrian mengungkapkan ada dua tantangan yang dapat menghambat terealisasinya komitmen investasi Rp200 triliun di industri petrokimia RI.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 20 Oktober 2022  |  03:49 WIB
Ada Potensi Investasi Rp200 Triliun di Industri Petrokimia, Ini Jadi Tantangan
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. - Dok. Kementerian Perindustrian
Bagikan

Bisnis.com, CILEGON - Pemerintah mengungkapkan sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi oleh industri petrokimia Tanah Air demi memastikan komitmen investasi senilai Rp200 triliun bisa terealisasi penuh.

Plt Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ignatius Warsito mengatakan, setidaknya ada dua tantangan utama bagi industri petrokimia Indonesia. 

Pertama, gangguan rantai pasok sebagai dampak dari perang Rusia - Ukraina. Sebagaimana diketahui, sebagian besar bahan baku petrokimia Indonesia masih diimpor sehingga sangat bergantung dengan kondisi rantai pasok.

Menurut data Kemenperin, total impor produk petrokimia Indonesia mencapai 8,10 juta ton per tahun dengan nilai Us$10,89 miliar. Perinciannya, petrokimia hulu 3,03 juta ton, petrokimia intermediate 0,78 juta ton, dan petrokimia hilir 4,29 juta ton.

"Rantai pasok kami harapkan bisa memperkuat struktur industri. Namun, potensi investasi Rp200 triliun tadi akan terhambat jika rantai pasok terganggu faktor eksternal seperti perang Rusia dan Ukraina," ujar Warsito, Rabu (19/10/2022).

Kedua, keberlangsungan fasilitas harga gas US$6 per Mmbtu bagi pelaku industri. Saat ini, kata Warsito, keberlanjutan fasilitas tersebut masih didiskusikan di kalangan pemerintah. Dihentikannya fasilitas itu dinilai dapat membuat investor urung menaruh modalnya.

Saat ini, sambungnya, Kemenperin sedang menggodok kajian akademis terkait dengan kebijakan apa yang dapat menjadi back up jika kondisi yang tidak diinginkan terjadi guna memastikan investasi tetap mengalir hingga 2 tahun ke depan.

"Sebab, pascapandemi industri petrokimia RI dan negara tetangga seperti Vietnam akan saling mencuri start. Jika tidak punya lompatan kita akan ketinggalan," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri petrokimia kemenperin
Editor : Denis Riantiza Meilanova
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top