Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jalur Kereta Cepat Jakarta Bandung Harus Steril dari Menara BTS, Ini Alasannya

Instran menjelaskan alasan bahwa jalur Kereta Cepat Jakarta Bandung harus steril dari menara BTS.
Ilustrasi teknisi melakukan perawatan menara Base Transceiver Station (BTS) di kawasan Gunung Pancar, Kabupaten Bogor, Selasa (30/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Ilustrasi teknisi melakukan perawatan menara Base Transceiver Station (BTS) di kawasan Gunung Pancar, Kabupaten Bogor, Selasa (30/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Institut Studi Transportasi atau Instran menilai jalur Kereta Cepat Jakarta–Bandung sepanjang 142,3 kilometer (km) harus steril dari menara Base Transreceiver Station (BTS) untuk publik.

Untuk diketahui, Kereta Cepat menggunakan teknologi sistem persinyalan GSM-R sebagai teknologi transmisi data (train control data) yang mengadopsi teknologi pada China Railway.

Menurut Direktur Eksekutif Instran Deddy Herlambang, adanya menara BTS di sepanjang jalur Kereta Cepat dikhawatirkan mengganggu kinerja persinyalan kereta. Idealnya, jalur Kereta Cepat dinilai harus steril dari menara BTS milik publik.

"Perlu pada trase sepanjang Halim sampai dengan [Tegalluar] bersih dari BTS-BTS masyarakat. Jadi di situ hanya ada BTS khusus GSM-R. Artinya tidak bisa diakses oleh publik," terang Deddy, Selasa (18/10/2022).

Deddy menegaskan bahwa BTS khusus frekuensi masyarakat umum harus terpisah dengan milik Kereta Cepat. Hal tersebut berhubungan langsung dengan faktor keselamatan transportasi.

Untuk memastikan efektivitas persinyalan, Deddy menyebut setidaknya letak dari menara BTS milik publik harus berada di sekitar radius 5 hingga 10 kilometer dari trase Kereta Cepat. Namun, timpalnya, akan lebih baik jika steril sepenuhnya.

Kendati demikian, hal tersebut tidak semudah menjentikkan jari tangan. Deddy menyebut pemindahan atau pensterilan menara BTS di sepanjang jalur kereta bisa memakan dana yang besar dan bisa menimbulkan biaya bengkak bagi Proyek Kereta Cepat.

"Nah sekarang masalahanya BTS-BTS itu kan banyak sekali. Maka itu biaya [Proyek KCJB] bisa cost overrun. Jadi, sangat mahal karena itu yang tidak diperhitungkan oleh capex awal. Ternyata ketika mau menyinkronkan persinyalan, ternyata ada masalah sinyal karena mereka mintanya sinyal GSM bukan sinyal lain," terangnya.

Sebelumnya, PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) telah mengungkap bahwa perusahaan patungan kedua negara itu harus menanggung biaya investasi terkait dengan jaringan telekomunikasi kereta.

Direktur Utama PT KCIC Dwiyana Slamet belum lama ini mengungkap bahwa sistem persinyalan kereta menjadi salah satu faktor dari cost overrun Proyek Kereta Cepat. Berdasarkan perhitungan PT Kereta Api Indonesia (Persero), total cost overrun berkisar antara US$1,1 miliar hingga US$1,9 miliar.

Hal tersebut, terang Dwiyana, terlihat juga pada perbedaan asumsi cost overrun antara konsultan Indonesia dan China. Dia mengatakan bahwa konsultan China mencatat biaya investasi GSM-R untuk 900 MHz sebagai free of charge atau gratis.

Hal itu lantaran pemerintah di China menyediakan frekuensi tersebut khusus untuk kereta.

Sementara itu, di Indonesia, jaringan GSM-R 900 megahertz sudah dipakai oleh industri telekomunikasi sejak 1992, sehingga proyek KCJB diminta untuk bekerja sama dengan Telkomsel.

"Jadi, kami diminta untuk kerja sama dengan Telkomsel dan di situ ada investasinya hampir sekitar Rp1,3 triliun untuk clearance frekuensi dan lain-lain. Sehingga tidak akan saling mengganggu antara frekuensi Telkomsel dengan kami," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Dany Saputra
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper