Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemenkeu: Kenaikan Inflasi Masih Harus Diwaspadai

Selain masih adanya efek pascakenaikan harga BBM, terdapat faktor musiman yang bisa memengaruhi harga pangan sebagai salah satu kontributor pendorong inflasi.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 05 Oktober 2022  |  16:39 WIB
Kemenkeu: Kenaikan Inflasi Masih Harus Diwaspadai
Layar menampilkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu (kanan) memberikan pemaparan yang dipandu Wakil Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Fahmi Achmad dalam acara Bisnis Indonesia Business Challenges 2021 di Jakarta, Selasa (26/1/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Kebijakan Fiskal atau BKF Kementerian Keuangan menilai bahwa Indonesia masih harus mencermati risiko kenaikan inflasi, di antaranya karena adanya efek musiman dari musim penghujan. Pada September 2022 inflasi telah naik cukup tinggi.

Kepala BKF Febrio Nathan Kacaribu menjelaskan bahwa tingkat inflasi September 2022 di angka 5,95 persen (year-on-year/YoY) lebih rendah dari perkiraan Kemenkeu. Pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), inflasi diperkirakan bisa bergerak ke 6,6 persen—6,8 persen.

Meskipun begitu, Febrio menilai bahwa Indonesia tetap harus mewaspadai risiko kenaikan inflasi. Selain masih adanya efek pascakenaikan harga BBM, terdapat faktor musiman yang bisa memengaruhi pangan, sebagai salah satu kontributor pendorong inflasi.

"Ke depan, tekanan inflasi terkait efek musiman khususnya musim penghujan masih harus diwaspadai bersama," ujar Febrio pada Rabu (5/10/2022).

BKF menyatakan akan terus memonitor pergerakan inflasi pasca penyesuaian harga BBM domestik, sehingga bisa terus terkendali di tingkat yang rendah. Kenaikan harga BBM telah mendorong inflasi 1,17 persen secara bulanan pada September 2022.

Kebijakan itu pun membuat inflasi harga diatur pemerintah (administered price) per September 2022 melonjak menjadi 13,28 persen. Pada Agustus 2022 nilainya masih 6,84 persen.

Kenaikan harga BBM membawa efek rambatan, yakni kenaikan tarif angkutan umum, baik transportasi daring, bus Antar Kota Antar Provinsi/AKAP, maupun Angkutan Antarkota Dalam Provinsi (AKDP).

Selain itu, Febrio menyebut akan terus mengendalikan inflasi pangan untuk menjaga akses kebutuhan pangan. Inflasi pangan bergejolak (volatile food) per September 2022 naik ke 9,02 persen, dari posisi Agustus 2022 di 8,93 persen.

Menurut Febrio, kenaikan didorong oleh masih melimpahnya stok pangan hortikultura, minyak goreng, dan ikan sehingga mampu menahan inflasi naik lebih tinggi. Namun, harga beras sedikit mengalami peningkatan seiring berlangsungnya musim tanam.

"Pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas pangan agar inflasi pangan tetap terkendali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi tekanan inflasi kemenkeu badan kebijakan fiskal
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top