Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jerman Mau Tarik Pinjaman US$196 MIliar, Negara Eropa Lain Ketar-ketir

Jerman berencana menarik pinjaman senilai 200 miliar euro (US$196 miliar) untuk untuk melindungi perusahaan dan rumah tangga dari lonjakan harga energi.
Staf berdiri di dekat bendera Uni Eropa (UE), bersiap-siap sebelum dimulainya pertemuan antara negara-negara UE dengan Parlemen Eropa di Brussels, Belgia, Rabu (8/7/2020)./Bloomberg-Geert Vanden Wijngaert
Staf berdiri di dekat bendera Uni Eropa (UE), bersiap-siap sebelum dimulainya pertemuan antara negara-negara UE dengan Parlemen Eropa di Brussels, Belgia, Rabu (8/7/2020)./Bloomberg-Geert Vanden Wijngaert

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana Jerman untuk menarik pinjaman dengan jumlah jumbo memicu kekhawatiran dari negara-negara Eropa lainnya. Hal ini lantaran ekonomi wilayah ini masih terjebak dalam krisis.

Dilansir Bloomberg pada Selasa (4/10/2022), pemerintah Jerman meluncurkan rencana penarikan pinjaman senilai 200 miliar euro (US$196 miliar) pekan lalu yang bertujuan untuk melindungi perusahaan dan rumah tangga dari lonjakan harga energi.

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengungkapkan rencana tersebut, yang termasuk pembatasan harga gas, akan menjadi payung pelindung besar atas ekonomi terbesar di Eropa ini.

Meski demikian, rencana itu tidak akan melindungi negara lain yang akan berjuang untuk mengikuti karena mereka menghadapi biaya pinjaman yang lebih tinggi dan defisit anggaran yang lebih besar setelah pandemi.

"Kami menyadari bahwa ada kebutuhan yang lebih dalam untuk koordinasi langkah-langkah nasional dan untuk memiliki tanggapan bersama terhadap konsekuensi perang yang berkembang,” ungkap Menteri Keuangan Irlandia Paschal Donohoe dalam pertemuan para menteri keuangan Eropa, Senin (3/10/2022).

Selain itu, Komisaris Ekonomi Uni Eropa Paolo Gentiloni memperingatkan terhadap tudingan tersebut. Menurutnya, ini bukan saatnya untuk menyalahkan upaya ini atau itu dari negara-negara anggota tunggal.

"Inilah saatnya untuk mencoba meningkatkan tingkat solidaritas kita bersama," tegasnya.

Komentar tersebut muncul setelah peringatan sebelumnya dari Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire bahwa negara-negara Eropa perlu menentukan strategi ekonomi bersama.

“Jika tidak ada konsultasi, tidak ada solidaritas, tidak ada dukungan yang ditargetkan, dan tidak ada rasa hormat terhadap kondisi persaingan yang sehat, akan ada risiko perpecahan di zona euro,” katanya.

Penolakan itu juga diungkapkan oleh Menteri Keuangan Finlandia Annika Saarikko, yang mengatakan harus ada lebih banyak kesadaran tentang dampak keputusan satu negara terhadap negara lain.

Divergensi kebijakan yang lebih besar di Eropa berisiko menggoyahkan ekonomi ekonomi yang sudah di ambang resesi selama musim dingin. Kegagalan bekerja sama dengan setiap negara juga akan bertolak belakang tanggapan Uni Eropa terhadap Covid, ketika pemerintah mengeluarkan utang untuk dana pemulihan besar-besaran terhadap negara-negara yang paling membutuhkan.

Komisaris Eropa untuk Pasar Dalam Negeri Thierry Breton mengungkapkan dirinya telah mendesak negara-negara anggota untuk mencari segala cara guna mendukung industri dan bisnis masing-masing.

“Tapi saya percaya ini harus dilakukan dengan transparansi, konsultasi, dan koherensi yang luar biasa," cuit Breton di akun Twitter-nya @ThierryBreton, Jumat (30/9/2022).

Menurutnya, meskipun Jerman mampu meminjam 200 miliar euro di pasar keuangan, beberapa negara anggota UE lainnya tidak bisa melakukan hal yang sama.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper