Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

S&P Pangkas Outlook Inggris Jadi Negatif, Risiko Fiskal Meningkat

S&P Global mengatakan kebijakan pemotongan pajak yang diumumkan pemerintah Inggris pekan lalu berisiko mengganggu keseimbangan fiskal.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 01 Oktober 2022  |  08:02 WIB
S&P Pangkas Outlook Inggris Jadi Negatif, Risiko Fiskal Meningkat
Bendera Inggris. - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memangkas outlook kredit Inggris menjadi negatif dari stabil karena meningkatnya risiko terhadap kesehatan fiskal negara selama dua tahun ke depan.

Dilansir Bloomberg pada Sabtu (1/10/2022), S&P Global mengatakan kebijakan pemotongan pajak yang diumumkan pemerintah Inggris pekan lalu berisiko mengganggu keseimbangan fiskal, meningkatkan biaya pinjaman, dan mempersulit upaya pengendalian inflasi.

S&P menegaskan peringkat kredit Inggris di level AA, peringkat tertinggi ketiga.

Paket pemotongan pajak paling radikal di Inggris sejak 1972, yang dikombinasikan dengan rencana pinjaman skala besar, menyeret pasar keuangan Inggris ke dalam kejatuhan. Poundsterling sempat mencapai level terendah sepanjang masa terhadap dolar AS sementara biaya pinjaman melonjak.

Bank of England turun tangan dengan melakukan intervensi di pasar obligasi pemerintah atau gilts dengan menjanjikan pembelian obligasi jangka panjang tanpa batas.

"Revisi prospek ini mencerminkan apa yang kami pandang sebagai peningkatan risiko fiskal untuk ekonomi Inggris yang berasal dari pelonggaran anggaran yang cukup besar yang diumumkan pada 23 September," demikian pernyataan S&P Global.

Sementara itu, Moody's Investors Service menyematkan rating Aa3 kepada Inggris, level tertinggi keempat, sementara Fitch Ratings memberi peringkat setara AA-.

Pada 28 September, Moody's memperingatkan kecilnya anggaran pemerintah Inggris berisiko berdampak negatif jangka panjang pada keterjangkauan utang negara.

Namun demikian, Perdana Menteri Liz Truss tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Ia menyalahkan perang Rusia di Ukraina atas gejolak pasar yang mendorong poundsterling ke rekor terendah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris ekonomi inggris rating Rating kredit outlook
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top