Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dampak Kenaikan Harga BBM, Indef: Inflasi Meroket jadi 7,7 Persen

Indef memprediksi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bisa membuat inflasi tahunan meroket jadi 7,7 persen.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 21 September 2022  |  15:17 WIB
Dampak Kenaikan Harga BBM, Indef: Inflasi Meroket jadi 7,7 Persen
Petugas mengganti papan informasi jelang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di sebuah SPBU, Jakarta, Sabtu (3/9/2022). Pemerintah menetapkan harga Pertalite dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10 ribu per liter, Solar subsidi dari Rp5.150 per liter jadi Rp6.800 per liter, Pertamax nonsubsidi naik dari Rp12.500 jadi Rp14.500 per liter berlaku pada Sabtu 3 September 2022 mulai pukul 14.30 WIB. ANTARA FOTO/Galih Pradipta - wsj.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance atau Indef memperkirakan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM akan mendorong inflasi secara langsung pada bulan September, bahkan dapat membuat inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) naik hingga 7,7 persen.

Peneliti Center of Industry, Trade, and Investment Indef Ahmad Heri Firdaus menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan pihaknya, kenaikan harga BBM tetap akan meningkatkan inflasi. Meskipun terdapat penyaluran bantuan sosial senilai Rp24,7 triliun, lonjakan inflasi tetap tidak terhindarkan.

"Inflasi tahunan [2022] bisa mencapai 7,7 persen," ujar Ahmad dalam diskusi publik Indef bertajuk Dampak Kenaikan Harga BBM dan Isu Penghapusan Daya Listrik 450 VA, Rabu (21/9/2022).

Indef memperkirakan bahwa akan terjadi kenaikan inflasi 1,86 persen pada September 2022, bulan terjadinya kenaikan harga BBM. Dampaknya akan tetap terasa dalam beberapa bulan setelahnya, yakni penambahan inflasi 1,2 persen pada Oktober 2022, 0,8 persen pada November 2022, dan 0,9 persen pada Desember 2022.

Dia menyebut bahwa lonjakan inflasi mulai dari September 2022 bukan hanya memengaruhi inflasi tahunan secara signifikan, tetapi juga berpotensi masih berdampak pada inflasi bulan-bulan awal 2023.

"Hal tersebut perlu diwaspadai oleh pemerintah," imbuhnya. 

Indef menilai bahwa dampak inflasi dari kenaikan harga BBM tidak boleh dipandang remeh. Apalagi, lanjutnya, garis kemiskinan dapat meningkat jika laju inflasi naik tinggi. 

Dengan demikian, terdapat risiko tingkat kemiskinan akan kembali meningkat pasca pemerintah menaikkan harga BBM subsidi pada 3 September 2022. 

"Tingkat kemiskinan akan meningkat lagi pada September 2022, bahkan berpotensi melebihi tingkat kemiskinan waktu pandemi Covid-19," kata Ahmad. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indef Harga BBM Inflasi
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top