Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Dorong Konsorsium Baru Beli 35 Persen PI Shell di Masela

SKK Migas mendorong konsorsium baru mengambil alih 35 persen hak partisipasi Shell di Blok Masela.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 21 September 2022  |  16:11 WIB
Pemerintah Dorong Konsorsium Baru Beli 35 Persen PI Shell di Masela
Ilustrasi Blok Masela / Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah memastikan akan mendorong konsorsium baru untuk mengambil 35 persen hak partisipasi proyek Kilang Gas Alam Cair (LNG) Abadi Blok Masela yang ingin dilepas Shell sejak dua tahun lalu itu.

Rencananya konsorsium yang akan mengambil alih hak partisipasi Shell di Blok Masela akan terdiri dari dua hingga tiga perusahaan patungan.

“[Konsorsium] pengganti Shell sebanyak dua atau tiga, dan ini tergantung negosiasi dengan Shell,” kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto saat ditemui di JCC Jakarta, Rabu (21/9/2022).

Dwi berharap pembentukan konsorsium baru untuk pengambilan divestasi Shell dapat rampung seiring dengan revisi Plan of Development (PoD) fasilitas penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan karbon (CCUS) dan Final Investment Decision (FID) yang ditarget rampung masing-masing akhir tahun ini dan 2023 mendatang.

Berdasarkan catatan SKK Migas, revisi PoD CCUS untuk proyek Kilang Gas Alam Cair (LNG) Abadi Blok Masela belakangan akan menambah nilai investasi mencapai US$1,4 miliar.

“Kita yakin paralel konsorsium baru bisa didapat,” ujarnya.

Adapun, sejumlah perusahaan minyak dan gas (Migas) domestik berpotensi untuk membentuk perusahaan patungan untuk mengambil hak partisipasi Shell tersebut. Selain PT Pertamina (Persero) yang mendapat penugasan, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) belakangan menunjukkan minatnya untuk ikut ambil bagian pada salah satu proyek gas terbesar di dunia tersebut.

“Medco bilang mempertimbangkan kalau bisa masuk 10 persen maksimal,” kata Menteri ESDM Arifin Tasrif saat ditemui di JCC Jakarta, Rabu (21/9/2022).

Arifin mengatakan kementeriannya tengah mendorong inisiatif sejumlah perusahaan migas domestik untuk ikut bergabung ke dalam konsorsium pengambilan divestasi Shell tersebut.

“Tergantung dari konsorsiumnya saja mau bentuknya, ini kan masih 35 persen yang lowong,” ujar Arifin.

Diberitakan sebelumnya, Inpex Corporation, induk usaha dari Inpex Masela Ltd., memutuskan untuk menunda operasional proyek lapangan migas di Laut Arafuru, Maluku itu hingga 2030 atau molor dari jadwal yang sudah disepakati sesuai dengan Plan of Development (PoD) pada 2027.

Presiden Direktur Inpex, Takayuki Ueda, menyebutkan bahwa penundaan tersebut dilakukan sejalan dengan rencana zero emission strategy, yakni perusahaan akan memasukkan proyek carbon capture storage (CCS) dalam proyek Abadi Masela.

Saat ini, Inpex tengah melakukan studi ukuran yang komprehensif seperti pengenalan fasilitas penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan karbon atau dikenal dengan sebutan CCUS. Pemasangan CCUS tersebut dimaksudkan untuk membuat proyek LNG Blok Masela menjadi lebih ramah lingkungan.

“Kami sedang melakukan kajian untuk memasukkan proyek CCUS dalam proyek Abadi dan kami mencoba untuk melakukan cost reduction. Sehingga, proyek ini bisa mengurangi biaya lebih lanjut dan mempromosikan proyek sebagai proyek yang kompetitif dan bersih dengan tujuan memulai produksi pada awal 2030-an,” ungkap Takayuki dalam keterangan resminya, Selasa (22/02/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

shell blok masela skk migas blok migas kementerian esdm
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top