Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Produksi Alat Berat Sektor Konstruksi Tahun Ini Tembus 2.000 Unit

Proses pergantian alat berat sektor konstruksi relatif lebih panjang dibandingkan dengan sektor tambang. 
Ilustrasi pengerjaan proyek konstruksi dengan menggunakan alat berat/Istimewa
Ilustrasi pengerjaan proyek konstruksi dengan menggunakan alat berat/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA- Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) memperkirakan produksi alat berat untuk sektor konstruksi tahun ini masih stabil di angka 2.000 unit. Setara dengan 20 persen dari total kapasitas produksi. 

Ketua Umum Hinabi Jamaludin mengatakan produksi alat berat untuk kebutuhan sektor konstruksi tahun ini stabil lantaran investasinya sudah dimulai sejak 2020. Alasannya, proses pergantian alat berat sektor konstruksi relatif lebih panjang dibandingkan dengan sektor tambang. 

"Sektor konstruksi pergantian alatnya cukup panjang, tidak seperti mining. Sehingga investasi alat untuk konstruksi sudah dimulai dari sebelum-sebelumnya," kata Jamaludin kepada Bisnis, Senin (19/9/2022). 

Mengutip data Hinabi, porsi alat berat untuk sektor konstruksi sebesar 20 persen dari total produksi. Selanjutnya, untuk sektor pertambangan 40 persen, forestry 25 persen, dan agro 15 persen. 

Himpunan tersebut juga mencatat kapasitas produksi alat berat di Indonesia sekitar 10.000 unit tahun ini. Naik 40 persen dibandingkan dengan kapasitas produksi tahun sebelumnya dengan jumlah sekitar 6.000 unit. 

Stabilnya produksi alat berat untuk keperluan konstruksi sejalan dengan perkiraan optimis penjualan oleh emiten yang bergerak di sektor tersebut. 

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk. (UNTR) Sara Loebis mengaku optimistis perusahaan mampu melanjutkan tren positif penjualan alat berat sejalan dengan kembali digiatkannya pembangunan infrastruktur yang sempat tertunda akibat terdampak pandemi Covid-19. 

Sepanjang Januari - Juli 2022, penjualan alat berat United Tractors tercatat laris manis dengan mengalami pertumbuhan signifikan selama periode Januari - Juli 2022. Sebagian pertumbuhan dikontribusi oleh pembelian alat berat dari sektor konstruksi.

"Potensi meningkat nampaknya tetap ada mengingat kegiatan pembangunan infrastruktur kembali digiatkan setelah tertunda pandemi yang lalu. Namun, kami belum punya info proyeksinya berapa persen," kata Sara kepada Bisnis. 

Mengutip update data operasional United Tractors yang diperoleh Bisnis pada Senin (19/9/2022), UNTR mencatatkan pertumbuhan lebih dari 34 persen untuk penjualan selama periode Januari - Juli 2022 untuk sektor konstruksi. 

Pada periode tersebut, emiten alat berat berkode saham UNTR itu mencatatkan penjualan sebanyak 667 unit, naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya dengan penjualan sebanyak 438 unit.

"Memang, pengaruh signifikan pertumbuhan dari sektor tambang. Namun, pertumbuhan yang tak kalah signifikan juga terjadi di sektor konstruksi," ujar Sara. 

Sepanjang Januari-Juli 2022, porsi alat berat yang dijual untuk sektor konstruksi sekitar 19 persen dari total penjualan. Artinya, perusahaan menjual 667 unit dari sebanyak 3.399 unit alat berat yang terjual pada periode tersebut.

Selain itu, optimisme UNTR akan kian maraknya proyek pekerjaan infrastruktur di Tanah Air sangat masuk akal. 

Salah satu emiten BUMN Karya, PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA) belum lama ini mencatatkan pertumbuhan kontrak baru Rp14,7 triliun per Juli 2022.

Sementara itu, Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) tahun lalu mencatat alat berat yang terjual untuk sektor konstruksi pada periode Januari - Juli 2021 mayoritas merupakan model Vibro.

Vibro merupakan alat berat yang digunakan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pemadatan tanah. Alat berat ini banyak digunakan untuk menggilas serta memadatkan hasil timbunan.

Perhimpunan juga mencatat kebutuhan pasar Tanah Air terhadap alat berat mengalami peningkatan tahun ini. Menurut catatan PAABI, kebutuhan pasar naik dari 14.500 unit menjadi 20.000 unit tahun ini.

Ketua Umum Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) Etot Listyono mengatakan kapasitas produksi dalam negeri sebanyak 10.000 unit, sedangkan 10.000 unit lainnya akan diimpor.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rahmad Fauzan
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper