Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Harga Pangan Ikut Melonjak Imbas BBM, Akademisi: Tidak akan Lama

Harga komoditas seperti cabai merah keriting kembali menyentuh angka Rp70.700 per kilogram (kg), per 5 September 2022,
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 05 September 2022  |  14:21 WIB
Harga Pangan Ikut Melonjak Imbas BBM, Akademisi: Tidak akan Lama
Ilustrasi tanaman cabai merah - Antara/Saiful Bahri
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Hampir semua harga pangan terpantau mengalami kenaikan sebagai imbas dari harga bahan bakar minyak (BBM) yang melonjak hingga lebih dari 30 persen.

Guru Besar IPB University Bayu Krisnamurthi mengungkapkan bahwa fenomena harga pangan yang melonjak hari ini, Senin (5/9/2022), sudah pasti sebagai dampak dari kenaikan BBM.

“Kalau fenomena harian di hari ini jawabnya iya [dampak kenaikan harga BBM], karena harga energi itu selalu punya dampak inflatoir yang kuat,” ujarnya, Senin (5/9/2022).

Menurutnya, lonjakan tersebut hanya terjadi dalam jangka dekat, selagi masing-masing pengusaha atau pedagang mengkalkulasikan kembali biaya produksi dan harga jual menuju keseimbangan baru.

“Namun dalam jangka menengah kenaikan harga pangan dapat terjadi pada dirinya sendiri juga karena situasinya masih dinamik,” tambahnya.

Berdasarkan laporan di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional per 5 September 2022, harga komoditas seperti cabai merah keriting kembali menyentuh angka Rp70.700 per kilogram (kg), setelah sebelumnya mengalami tren penurunan.

Sebagai contoh di Aceh, harga cabai merah keriting melonjak hingga mencapai Rp108.650/kg, dan menjadi harga tertinggi. Sementara Sulawesi Tengah memiliki harga terendah, yakni Rp40.000/kg.

Di Jakarta rerata harga cabai merah keriting hari ini terpantau melonjak Rp5.829 menjadi Rp77.957/kg.

Pedagang yang berada di pasar pun mengungkapkan bahwa kenaikan harga akibat BBM langsung berdampak dan akan dilakukan perhitungan terlebih dahulu sebelum merekomendasikan harga baru kepada pasar.

“Per hari ini dampak dari kenaikan BBM cukup terasa di hampir semua komoditas seperti cabai merah keriting sudah di angka Rp79.000/kg, cabai rawit merah Rp63.500/kg,” papar Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowon, Senin (5/9/2022).

Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus melihat kondisi kenaikan harga pangan pada hari ini sebagai efek kejut yang wajar di alami dengan kenaikan harga energi.

Heri memprediksikan dalam 2-3 bulan ke depan, masyarakat dan pelaku usaha masih dalam proses beradaptasi dengan adanya penyesuaian harga.

“Biasanya efek kejut terjadi dalam jangka pendek, kalau misalnya mengalami penyesuaian, ibaratnya kan sekarang gara gara bbm semuanya bikin setting-an baru, kalau sudah menyetel, yaudah stabil, tapi stabilnya udah di equilibrium baru, keseimbangan baru,” jelasnya, Senin (5/9/2022).

Heri berharap pemerintah dapat segera memberikan bantuan yang dijanjikan, kepada penerima manfaat, UMKM, ojek online, serta para pekerja. Bantuan langsung tunai atau BLT terpantau sudah mulai disalurkan, namun belum untuk bantuan subsidi upah (BSU) bagi para pekerja.

Kementerian Keuangan mengaku telah menyiapkan anggaran Rp24,17 triliun untuk bantuan pengganti subsidi BBM. Adapun 3 bantalan sosial yang telah disiapkan yaitu Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Subsidi Upah (BSU), dan Bantuan Sosial Pemda.

“Pemerintah harus menyertai dengan berbagai upaya contohnya dengan mengamankan ketersedian kebutuhan pokok, realisasi bantuan yang ada tiga bentuk itu, dipastkan tepat saran dan tepat waktu, kalau tidak, dampaknya akan lumayan panjang,” tutup Heri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top