Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dibayangi Inflasi, Konsumen Dunia Mulai Hati-Hati Berbelanja

Survei EY Future Consumer Index menunjukkan bahwa konsumen di dunia, termasuk Indonesia bersiap untuk menyesuaikan belanja mereka karena ancaman Inflasi global.
Fahmi Ahmad Burhan
Fahmi Ahmad Burhan - Bisnis.com 02 September 2022  |  18:26 WIB
Dibayangi Inflasi, Konsumen Dunia Mulai Hati-Hati Berbelanja
Seorang warga tengah berbelanja kebutuhan makanan di salah satu pusat perbelanjaan Amerika Serikat (AS). - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Ernst and Young dalam survei bertajuk EY Future Consumer Index mengungkapkan bahwa konsumen mulai mengendalikan konsumsi mereka karena tekanan inflasi global. Sementara, Indonesia termasuk diantara negara-negara Asia yang konsumennya lebih berhati-hati dalam berbelanja.

EY Future Consumer Index menemukan bahwa kenaikan biaya barang dan jasa memengaruhi 52 persen kemampuan responden global untuk membeli barang dan memengaruhi keputusan pembelian mereka.

Kenaikan biaya ini berdampak paling besar pada mereka yang berpenghasilan rendah atau 62 persen responden. Selain itu, mereka yang berpenghasilan menengah atau 48 persen dan konsumen berpenghasilan tinggi atau 42 persen juga ikut terhimpit.

Di Indonesia, India, dan Thailand, lebih dari setengah konsumen berpenghasilan menengah dan lebih dari 60 persen berpenghasilan tinggi juga terkena dampaknya.

Konsumen di negara-negara Asia yang mayoritas penduduknya berpenghasilan harian atau mingguan ini menjadi lebih berhati-hati dalam berbelanja dan memilih untuk menabung lebih banyak demi mempersiapkan masa depan, seperti Indonesia (84 persen), India (81 persen), Thailand (75 persen), dan Cina (68 persen).

Survei itu menunjukkan bahwa penurunan motivasi konsumsi didorong oleh dampak inflasi pada harga dan antisipasi varian Covid-19 baru. Konsumen akan terus mengendalikan konsumsi mereka dengan beralih ke alternatif yang lebih murah dan membeli lebih sedikit barang yang dinilai tidak penting.

"Dengan daya beli yang menurun dan ketidakpastian yang membayangi, konsumen dipaksa untuk memikirkan kembali kebiasaan belanja mereka, bukan hanya barang, tetapi juga kebutuhan sehari-hari," kata Iwan Margono, EY Asia-Pacific Buy and Integrate Leader dalam siaran pers, Jumat (2/9/2022).

Selain berhati-hati dalam berbelanja, survei menunjukkan bahwa konsumen mulai melakukan pembelian yang lebih berkelanjutan bertujuan untuk melindungi lingkungan. 56 persen responden berjanji untuk lebih memperhatikan dampak lingkungan dari pembelian mereka dan 52 persen responden lebih memperhatikan dampak sosial yang ditimbulkan dari pembelian.

Konsumen juga menginginkan lebih banyak pengalaman daripada sebelumnya. "Dari lima prioritas pengeluaran utama, mendahulukan lingkungan, keterjangkauan, pengalaman, kesehatan dan masyarakat," kata Anugrah Pratama, EY-Parthenon Partner, Strategy and Transactions EY Indonesia.

Sebagaimana diketahui, sejumlah negara di dunia memang sedang dibayang-bayangi oleh inflasi global. Di Indonesia, konsensus ekonom dalam data Bloomberg memperkirakan bahwa inflasi Indonesia pada Agustus 2022 dapat menembus 5 persen, sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia bahwa inflasi akhir tahun bisa berkisar 5 persen.

Tingginya proyeksi inflasi itu didasari oleh sinyal kuat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, ekspektasi inflasi menjadi sangat tinggi karena adanya proyeksi kenaikan harga pangan akan mencapai puncak dalam empat bulan ke depan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa pemerintah telah memberikan berbagai subsidi untuk menekan laju inflasi, terutama melalui subsidi dan kompensasi energi yang mencapai Rp502 triliun. Menurutnya, langkah itu berhasil menjaga komponen inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi tekanan inflasi konsumen ekonomi global ernst and young
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top