Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INSA Usul Kontainer Domestik Kena Fuel Surcharge, Ini Alasannya

INSA mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan pengenaan fuel surcharge pada pelayaran kontainer domestik.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 28 Juli 2022  |  12:51 WIB
INSA Usul Kontainer Domestik Kena Fuel Surcharge, Ini Alasannya
Ilustrasi pelayaran kontainer.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesian National Shipowners' Association (INSA) berharap pemerintah mempertimbangkan pengenaan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) untuk pelayaran kontainer domestik.

Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto menilai beban berat pelayaran nasional seiring dengan kenaikan harga bahan bakar dan pelemahan nilai tukar rupiah perlu dicarikan solusi bersama.

Dia mengusulkan salah satu solusinya dengan memberlakukan fuel surcharge pada pelayaran kontainer domestik seperti yang diterapkan PT Pelindo dalam pelayanan jasa penundaan di pelabuhan.

Menurutnya, harga bahan bakar yang melambung dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga telah mengerek biaya logistik. Kenaikan biaya logistik salah satunya ditandai dengan naiknya harga tiket pesawat yang terjadi merata pada penerbangan domestik maupun internasional.

“Pemberlakuan fuel surcharge merupakan hal yang logis di industri transportasi. Tentu dalam pemberlakuannya pelayaran nasional mempertimbangkan tingkat daya beli masyarakat sehingga tidak menghambat pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya, Rabu (27/7/2022).

Memei, sapaan akrabnya pun menjabarkan kondisi ketidakpastian dunia dan ancaman inflasi telah membuat kinerja sektor pelayaran nasional semakin berat.

Beban berat pelayaran nasional sudah mulai terasa seiring terjadinya penaikan harga bahan bakar MFO dari PT Pertamina (persero) sejak Januari hingga Juni 2022 yang mengalami kenaikan sebesar kurang lebih 22,5 persen.

Kenaikan harga bahan bakar non subsidi telah menambah beban operasional transportasi laut, mengingat biaya bahan bakar berkontribusi sekitar 40-50 persen terhadap total biaya operasional perusahaan pelayaran. Tak hanya itu, kenaikan harga bunker juga berdampak pada operasional kapal tunda yang dipakai untuk assist penyandaran kapal oleh PT Pelindo dan Badan Usaha Pelabuhan (BUP).

Kenaikan harga bahan bakar ini telah membuat PT Pelindo selaku operator pelabuhan mengusulkan adanya pengenaan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) pada pelayanan jasa penundaan di pelabuhan.

"Meski beban biaya semakin berat saat ini, namun pelayaran nasional tetap berkomitmen melayani distribusi barang melalui angkutan laut dengan pelayanan terbaik,” imbuhnya.

Tidak sampai di situ, beban pelayaran nasional semakin berat seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh di kisaran Rp15.000.

Pelemahan nilai tukar rupiah ini, sambung Carmelita, telah menambah beban biaya pelayaran nasional khususnya saat melakukan perawatan kapal, karena biaya spare part kapal sebagian besar lebih banyak diimpor dan pembeliannya menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.

Dalam laporan terbarunya, International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,2 persen pada tahun ini, dan 2,9 persen pada 2023.

Perang antara Rusia dan Ukraina telah menyebabkan krisis pangan dan energi serta menimbulkan ancaman inflasi di banyak negara.

Amerika Serikat dan Inggris mengalami inflasi hingga di atas 9 persen (y-o-y) atau yang tertinggi dalam empat dekade terakhir di kedua negara tersebut. Angka inflasi di beberapa negara di ASEAN juga meningkat, seperti Singapura dan Thailand yang mencapai sekitar 6 dan 7 persen.

Di Indonesia, meski angka inflasi relatif masih terjaga, namun sejumlah harga pokok di Indonesia telah mengalami penaikan di tahun ini. Sebut saja seperti minyak goreng, LPG non subsidi, kedelai, dan tarif listrik beberapa golongan dan nonsubsidi. Sejumlah komoditas juga terancam mengalami penaikan harga seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Di sisi lain, setelah sebelumnya dibekap Covid-19, World Health Organization (WHO) mengumumkan dunia tengah darurat ancaman penyakit cacar monyet. Hingga kini lebih dari 16.000 orang terkonfirmasi cacar monyet di 75 negara. Kondisi memicu ketidakpastian yang kian tinggi pada dunia usaha.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

insa pelayaran fuel surcharge
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top