Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Work From Office Pacu Permintaan Ruang Kantor Kuartal II/2022

Tren baru di sektor properti perkantoran kuartal II/2022 didominasi relokasi dan upgrade kualitas gedung dari Grade B ke Grade A.
Afiffah Rahmah Nurdifa
Afiffah Rahmah Nurdifa - Bisnis.com 25 Juli 2022  |  18:40 WIB
Work From Office Pacu Permintaan Ruang Kantor Kuartal II/2022
Karyawan beraktivitas di sebuah gedung perkantoran di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (18/3/2020)./ANTARA FOTO - Wahyu Putro A
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kembalinya aktivitas Work from Office (WFO) di sejumlah perusahaan saat ini berdampak pada meningkatnya permintaan relokasi hingga upgrade gedung pada kuartal II/2022.

Berdasarkan laporan Jakarta Property Market Insight Q2 2022 yang dirilis PT Leads Property Services Indonesia, permintaan relokasi dan upgrade kualitas gedung dari Grade B ke Grade A tersebut banyak dilakukan di Jakarta Central Business District (CBD).

Permintaan tersebut berasal dari sektor logistik, teknologi, dan beberapa sektor lainnya. Dengan demikian, permintaan secara kuartalan tumbuh hingga 50 persen dari kuartal sebelumnya. Adapun harga sewa kotor di area CBD tercatat senilai Rp334.400 per meter persegi per bulan.

Sementara itu, di luar CBD tren permintaan kuartal II/2022 didominasi oleh sektor bisnis logistik dan jasa legal. Harga sewa kotor area non-CBD yaitu Rp242.600 per meter persegi per bulan, terjadi tekanan 0,3 persen dari kuartal sebelumnya.

Associate Director Martin Samuel Hutapea mengatakan meski permintaan perkantoran tetap bergerak, tetapi akan ada tantangan yang harus diwaspadai pengembang kawasan perkantoran.

"Secara keseluruhan bagi pasar perkantoran di Jakarta, meskipun kondisi pandemi telah berkurang intensitasnya dibandingkan tahun lalu, namun adapun indikator ekonomi makro yang perlu diwaspadai oleh pasar perkantoran yaitu potensi melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS hingga ke angka Rp15.000," kata Martin dalam keterangan resminya, Senin (25/7/2022).

Menurutnya, jika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, maka hal tersebut akan berimbas pada proyek baru yang akan dibangun.

"Proyek-proyek baru yang akan dibangun akan mengalami kenaikan harga konstruksi ,sementara harga sewa ruang kantor masih akan kompetitif," jelasnya.

Di sisi lain, Martin menerangkan bahwa di kuartal II ini tidak ada penambahan pasokan perkantoran di Jakarta Central Business District (CBD) maupun non-CBD.

Adapun di Jakarta CBD pasokan kumulatif perkantoran masih terdapat 7,13 juta meter persegi. Sementara di area non-CBD pasokan kumulatif berada di angka 4,12 juta meter persegi.

Namun, hingga akhir 2022 di area CBD akan ada tambahan pasokan yaitu Jakarta Mori Tower, Rajawali Place, dan Autograph Tower sebesar 255.121 meter persegi.

Sementara di luar CBD pasokan tambahan akan datang dari Stature Tower dan Gedung Sanggala sebesar 24.901 meter persegi hingga akhir tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perkantoran properti cbd nilai tukar rupiah
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top