Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ngeri! Sri Mulyani: 60 Persen Negara Berpenghasilan Rendah Terancam Bangkrut!

Menkeu Sri Mulyani bilang sekitar 60 persen negara berpenghasilan rendah terancam bangkrut.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 16 Juli 2022  |  13:02 WIB
Ngeri! Sri Mulyani: 60 Persen Negara Berpenghasilan Rendah Terancam Bangkrut!
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati di acara pembukaan 3rd FMCBG Meeting di Nusa Dua, Bali, Jumat (15/7/2022) - Antara.

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan RI Sri Mulyani mengatakan sekitar 60 persen negara berpenghasilan rendah (low income) bisa bangkrut dan tak bisa bayar utang akibat krisis yang terjadi saat ini. 

Hal itu diungkapkan Sri Mulyani saat keynote speech dalam pembukaan FMCBG G20 Indonesia di Nusa Dua, Bali, Jumat (15/7/2022).

"Sebanyak 60 persen negara berpenghasilan rendah saat ini sudah kesulitan membayar utang. Ini bukan kasus satu-dua, tapi meluas. Ini isu yang harus kita selesaikan bersama oleh menteri keuangan dan gubernur bank sentral, dan organisasi-organisasi internasional, multilateral," katanya. 

Bahkan, Sri Mulyani mengatakan belasan negara berkembang mungkin sulit membayar utang hingga tahun depan. Dia juga buka-bukaan soal 3 ancaman yang bisa menimbulkan gelojak krisis global dan bisa berdampak pada semua negara.

Menurutnya, triple threat (tiga ancaman) yang saat ini mengintai stabilitas keuangan global, yaitu perang (Rusia vs Ukraina), kenaikan harga komoditas, dan inflasi global yang naik.

"[Tiga ancaman ini] bisa meningkatkan risiko utang tak hanya low income, middle income, bahkan negara penghasilan tinggi," imbuhnya. 

Dia mengatakan kenaikan inflasi saat ini lebih kencang ketimbang kesiapan kebijakan moneter untuk mengantisipasinya. Di berbagai negara maju dan emerging market, lanjutnya, suku bunga naik signifikan.

Menurutnya, negara berkembang atau emerging market harus ikut menyesuaikan karena terancam adanya capital outflow [modal asing yang keluar] dan kenaikan biaya pembiayaan.

"Akibat pandemi, kita menggunakan ruang fiskal yang berimplikasi pada meingkatnya posisi utang. Tiga ancaman ini membuat situasi jadi semakin kompleks," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sri mulyani G20 Indonesia utang
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top