Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ngeri! Inflasi AS Sentuh 9,1 Persen pada Juni 2022, Lonjakan Terbesar Sejak 1981

Departemen Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen (CPI) AS naik 9,1 persen pada Juni 2022 dari periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) Departemen Tenaga Kerja.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 13 Juli 2022  |  19:41 WIB
Ngeri! Inflasi AS Sentuh 9,1 Persen pada Juni 2022, Lonjakan Terbesar Sejak 1981
Seorang warga tengah berbelanja kebutuhan makanan di salah satu pusat perbelanjaan Amerika Serikat (AS). Inflasi AS menyentuh level 9,1 persen pada Juni 2022. - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Inflasi Amerika Serikat melesat jauh di atas ekspektasi bulan Juni 2022, sekaligus mencatat lonjakan terbesar sejak 1981. Hal ini membuat Federal Reserve semakin yakin untuk menaikkan suku bunga acuan akhir bulan ini.

Dilansir Bloomberg pada Rabu (13/7/2022), Departemen Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen (CPI) AS naik 9,1 persen pada Juni 2022 dari periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) Departemen Tenaga Kerja.

Dibandingkan bulan sebelumnya, CPI AS naik 1,3 persen, terbesar sejak 2005. Adapun CPI inti, yang menghilangkan komponen makanan dan energi yang lebih mudah berubah, naik 0,7 persen mom dan 5,9 persen yoy.

Angka inflasi ini berada di atas median proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg yang memperkirakan CPI AS naik 8,8 persen pada Juni. Adapun dibandingkan Mei, CPI sebelumnya diperkirakan naik 1,1 persen dan CPI inti diperkirakan naik 0,5 persen.

Kepala investasi Cornerstone Financial Cliff Hodge mengatakan rilis data CPI Juni memiliki sentimen buruk karena semakin membatasi pilihan kebijakan The Fed.

"The Fed tidak punya pilihan selain mengikuti jalur yang lebih agresif, yang meningkatkan kemungkinan resesi tahun depan," ungkap Hodge seperti dikutip Bloomberg, Rabu (13/7/2022).

Akselerasi inflasi kemungkinan di dorong oleh kenaikan harga bensin dan bahan makanan. Harga di pompa bensin nasional mencapai lebih dari US$5 per galon pada pertengahan Juni dan berkontribusi setidaknya 0,5 poin persentase terhadap kenaikan CPI utama.

Angka inflasi AS yang membara menegaskan kembali bahwa tekanan harga meluas di seluruh perekonomian dan terus melemahkan daya beli dan kepercayaan. Keadaan ini akan membuat The Fed tetap pada rencana kebijakan agresif untuk mengendalikan permintaan dan menambah tekanan kepada Presiden Joe Biden dan anggota Kongres Demokrat yang dukungannya telah merosot menjelang pemilihan paruh waktu.

Meskipun banyak ekonom telah memperkirakan data ini akan menjadi puncak dalam siklus inflasi saat ini, beberapa faktor seperti harga perumahan yang masih tinggi diperkirakan tetap menjaga tekanan harga tinggi lebih lama.

Selain itu, risiko geopolitik termasuk penguncian Covid di China dan perang Rusia di Ukraina juga menimbulkan risiko pada rantai pasokan dan prospek inflasi.

The Fed telah mengisyaratkan kenaikan suku bunga 75 basis poin pada bulan pertemuan kebijakan bulan Juli di tengah inflasi yang tinggi serta pertumbuhan pekerjaan dan upah yang masih kuat. Bahkan sebelum data dirilis, pelaku pasar telah sepenuhnya memperkirakan kenaikan 0,75 poin persentase untuk bulan Juli.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as data ekonomi as Inflasi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top