Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Komisi V DPR Beberkan Program Andalan Jokowi yang Tak Optimal

Anggota Komisi V DPR menyebut salah satu program andalan Jokowi yang belum berjalan optimal.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 06 Juli 2022  |  12:30 WIB
Komisi V DPR Beberkan Program Andalan Jokowi yang Tak Optimal
Kapal Motor Dobonsolo memasuki Pelabuhan Makassar, Kamis (7/9). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Anggota Komisi V DPR menyebut salah satu program andalan Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum berjalan optimal hingga saat ini.

Program andalan yang dimaksud adalah Tol Laut. Alasannya adalah adanya keterlambatan pengiriman barang serta dampaknya yang minim terhadap penurunan harga.

Anggota Komisi V DRP Fraksi Partai Gerindra Sudewo menyebut sering mendapatkan keluhan dari daerah yang dilalui oleh trayek Tol Laut. Keterlambatan pengiriman barang oleh operator menyebabkan pemanfaatan barang/komoditas asli daerah yang dilalui Tol Laut kurang optimal.

"Misalnya di Morotai terasa jauh dari harapan karena banyak produksi ikan, kelapa, dan kopra di sana menjadi tidak bisa dimanfaatkan secara baik karena ada keterlambatan pengiriman," tuturnya saat rapat bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Senin (5/7/2022).

Untuk itu, Sudewo menilai jumlah kapal dan trayek Tol Laut perlu ditambah. Hal itu karena banyak daerah yang disebut belum terlayani oleh Tol Laut.

Saat ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub mencatat terdapat lebih dari 30 trayek Tol Laut yang beroperasi. Untuk pengoperasiannya, kapal laut dan kapal perintis (sekaligus angkutan darat) dimanfaatkan guna mengirimkan barang dari pangkalan hingga tempat tujuan.

Di sisi lain, Anggota Komisi V DPR Fraksi PKS Sigit Sosiantomo bahkan menilai program Tol Laut gagal. Menurutnya, Tol Laut gagal mengatasi disparitas harga barang serta ketersediaan barang di wilayah Indonesia Timur.

Sigit menyebut ada tiga alasan mengapa proyek yang diluncurkan sejak 2015 itu perlu dievaluasi. Pertama, indeks kemahalan konstruksi atau IKK BPS yang ada di Papua dan Maluku hingga saat ini menunjukkan Tol Laut tak mampu mengatasi disparitas harga.

Kedua, kontribusi Tol Laut kepada ekonomi daerah dinilai masih rendah.

"Itu diakui Presiden loh, kontribusi Tol Laut dibandingkan moda lain adalah yang paling rendah. Ketiga, tidak bisa menurunkan biaya logistik yang diakui Menkeu bahwa biaya logistik di Indonesia masih yang tertinggi di ASEAN," tuturnya melalui keterangan resmi.

Di sisi lain, Sigit menyebut terdapat indikasi terjadinya penyimpangan pada program Tol Laut berdasarkan temuan kelebihan pembayaran subsidi kepada operator. Hal tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK pada semester II/2020.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Arif Toha pun mengakui terdapat berbagai kendala yang masih dialami program Tol Laut. Menurutnya, muatan balik Tol Laut masih jauh lebih rendah dari muatan yang berangkat khususnya dari daerah yang terpencil.

Berdasarkan data per Juni 2022, terdapat rasio sekitar 36 persen antara muatan balik sebesar 3.304 TEUs dari muatan berangkat sebesar 9.014 TEUs, pada 28 trayek Tol Laut yang menggunakan kapal pelayaran.

Kemudian, disparitas antara muatan balik dan berangkat bahkan lebih lebar apabila dilihat pada lima trayek Tol Laut (T-22 sampai dengan T-26) yang dititipkan dengan menggunakan kapal penyeberangan milik ASDP, dengan tujuan daerah terjauh seperti Biak, Timika, dan Merauke. Dihitung dengan satuan tonase (ton), muatan balik tercatat 0 ton dari muatan berangkat 395 ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi dpr Tol Laut
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top