Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Beda Arah Fitch dan Ekonom Ramal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

INDEF sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2022 berada di level 4,3 persen dengan mempertimbangkan beberapa dampak dari pandemi Covid-19, konflik geopolitik Rusia dan Ukraina serta kenaikan harga pangan dan adanya ancaman krisis pangan. Sedangkan Fitch optimis ekonomi indonesia tumbuh pada level 5,6 persen.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 29 Juni 2022  |  20:33 WIB
Beda Arah Fitch dan Ekonom Ramal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Seorag pria menelepon dengan latar belakang gedung perkantoran di kawasan bisnis terpadu Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta. - Antara Foto/Andika Wahyu.

Bisnis.com, JAKARTA - Lembaga pemeringkat Fitch dalam laporannya memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2022 berada di level 5,6 persen dan meningkat menjadi 5,8 persen pada 2023.

Pemulihan ekonomi Indonesia juga dinilai akan berlanjut, didukung kinerja sektor jasa yang membaik dan ekspor yang kuat.

Ekonom Institute of Development on Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai, prediksi Fitch terlalu tinggi.

INDEF sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2022 berada di level 4,3 persen dengan mempertimbangkan beberapa dampak dari pandemi Covid-19, konflik geopolitik Rusia dan Ukraina serta kenaikan harga pangan dan adanya ancaman krisis pangan. Kondisi tersebut akan berlanjut pada 2023.

"Tapi prediksi [pertumbuhan ekonomi pada 2023] saya maksimal 5 persen sudah bagus banget," kata Esther kepada Bisnis, Rabu (29/6/2022).

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira sendiri juga memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 dan 2023 berada di bawah perkiraan Fitch dimana masing-masing berada pada kisaran 4,3-5,5 persen dan 4-4,5 persen.

Dia menuturkan, Indonesia selama satu semester di 2022 memang masih diuntungkan windfall harga komoditas ekspor yang tinggi. Namun, bergantung pada kinerja ekspor komoditas dinilai tidak cukup.

"Mulai terjadi penurunan harga beberapa jenis komoditas khususnya batubara dan CPO dalam satu bulan terakhir. Jika penurunan harga terus berlanjut akan lemah motor ekspornya," ujarnya.

Hal lain yang perlu diantisipasi antara lain tekanan resesi di negara maju terhadap stabilitas kurs, kenaikan suku bunga yang berakibat pada cost of fund korporasi serta melonjaknya inflasi yang akan dibebankan ke konsumen akhir.

"Tahun 2023 pertumbuhan ekonomi diperkirakan berkisar 4-4,5 persen (year-on-year/yoy) dengan pertimbangan naiknya downside risk yang mempengaruhi laju konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor," jelasnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi IndiGo Network Ajib Hamdani menilai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 persen menjadi angka yang menantang namun cenderung achievable lantaran tren pemulihan ekonomi berjalan dengan baik dan konsisten.

"Ketika pertumbuhan ekonomi di akhir 2022 bisa secara agregat di atas 5,5 persen, ini jadi momentum positif 2023 terus tumbuh," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi fitch ratings indef pertumbuhan ekonomi indonesia
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top