Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi China Suram, Begini Ramalan Perdana Menteri Li Keqiang

Perdana Menteri China Li Keqiang meramal ekonomi negara itu bakal berada dalam kondisi suram seiring kembalinya tindakan lockdown ketat di sejumlah titik bisnis penting.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 26 Mei 2022  |  21:53 WIB
Para komuter melewati layar yang menunjukkan siaran langsung berita Perdana Menteri China Li Keqiang berbicara di Kongres Rakyat Nasional di Beijing, China, Jumat, (5/3 - 2021). Bloomberg / Qilai Shen
Para komuter melewati layar yang menunjukkan siaran langsung berita Perdana Menteri China Li Keqiang berbicara di Kongres Rakyat Nasional di Beijing, China, Jumat, (5/3 - 2021). Bloomberg / Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri China Li Keqiang memperingatkan ramalan suram tentang perekonomian Negeri Panda akibat penyebaran Covid-19 yang telah memicu lockdown di berbagai titik bisnis penting.

Dilansir Bloomberg, Kamis (26/5/2022), hal itu tergambar dalam pertemuan darurat pada Rabu (25/5/2022) yang dihadiri oleh ribuan pejabat daerah, pemimpin perusahaan milik negara dan korporasi keuangan agar mereka ikut berupaya menstabilkan pertumbuhan.

Menurutnya, perekonomian akan bernasib lebih buruk daripada 2020 ketika pandemi pertama kali muncul. Bahkan, Li mengungkapkan bahwa ada kemungkinan Beijing tidak mencapai target PDB dengan selisih yang lebar pada tahun ini. Hal itu karena pemerintah fokus pada pengendalian virus yang ketat.

"Indikator ekonomi China telah menurun signifikan dan hambatan pada beberapa aspek dan sampai batas tertentu lebih besar daripada pukulan keras pandemi pada 2020," ujarnya.

Ekonom Bloomberg memperkirakan ekonomi China akan tumbuh 4,5 persen pada tahun ini, jauh di bawah target pemerintah 5,5 persen. Dia juga memperingatkan pentingnya mengurangi jumlah pengangguran yang melonjak.

CSI Index 300 jatuh 1,1 persen pada awal perdagangan Kamis, (26/5/2022) meskipun menghapus kerugian dengan kenaikan perdagangan 0,6 persen pada jam istirahat siang hari.

Adapun, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun melanjutkan penurunannya hingga hari keempat menjadi 2,75 persen.

"Jelas bahwa Li sedang benar-benar khawatir karena dia mengupayakan seluruh cara yang memungkinkan untuk menstabilkan ekonomi," ungkap Kepala Ekonom negara China Australia & New Zealand Banking Group Ltd. Raymond Yeung.

Sayangnya, Dewan Negara tidak bisa berbuat apa-apa karena strategi Covid Zero dan bergantung pada perubahan kondisi penularan virus.

Kontraksi pada produksi atau output industri terkontraksi untuk pertama kalinya sejak 2020 dan tingkat pengangguran melonjam menjadi 6,1 persen pada April. Adapun indeks agregat Bloomberg untuk delapan indikator menunjukkan bahwa perekonomian masih terperosok dalam pada Mei.

"Perekonomian berada di titik yang paling suram sejak kuartal II/2020," kata Kepala Ekonom Maktor dan Riset Strategi China Renaissance Securities Hong Kong Ltd. Bruce Pang.

Menurut Pang, pertemuan Li dengan pejabat China lainnya memang tidak untuk mengumumkan kebijakan baru, tetapi lebih kepada memperkuat konsensus.

Sementara itu, analis Goldman Sachs Group Inc., mengatakan dalam sebuah catatan bahwa penekanan Li pada pertumbuhan pada kuartal kedua mungkin merupakan pengakuan implisit bahwa target pertumbuhan yang ditetapkan pada awal Maret akan menantang.

“Pembuat kebijakan China berada dalam urgensi yang lebih besar untuk mendukung ekonomi setelah pertumbuhan aktivitas yang sangat lemah pada April, pemulihan pada bulan Mei, dan terus meningkatnya tingkat pengangguran," demikian seperti dalam catatan.

Li menggarisbawahi bahwa pemerintah akan berupaya mengurangi dampak ekonomi dari kebijakan penangana virus corona yang ketat, meskipun tidak merincinya.

"Pada saat mengendalikan pandemi, kami [juga] harus menyelesaikan tugas pertumbuhan ekonomi," katanya.

Di tengah kekhawatiran ekonomi, PM Li menegaskan bahwa data perekonomian kuartal II/2022 yang akan dirilis akan akurat. Hal itu diungkapkan untuk menepis kecurigaan bahwa data yang nanti keluar bisa jadi dimanipulasi menjadi tidak terlalu buruk.

Beijing tidak pernah mengakui target pertumbuhan yang meleset dengan selisih besar sejak lebih dari tiga dekade lalu. China hanya melaporkan satu kesalahan kecil pada 1998. Beijing juga tidak mengumumkan target pada 2020, ketika pandemi pertama kali memukul.

Perlu diketahui, penetapan target ini menjadi rapor kerja bagi pemerintah yang akan dilaporkan kepada Kongres Rakyat Nasional (NPC). Jika mau melakukan perubahan, maka mereka harus mendapat persetujuan dari NPC.

Namun demikian, melesetnya target kali ini tampaknya tidak akan menciptakan risiko politik bagi Presiden Xi Jinping dengan adanya prioritas lain seperti keamanan nasional dan pengendalian risiko keuangan.

Xi menulis di dalam dokumen kunci Partai Komunis pada tahun lalu bahwa pertumbuhan PDB seharusnya tidak lagi menjadi satu-satunya kriteria keberhasilan.

Sebelumnya dalam pertemuan dengan parlemen China, Li mengungkapkan 33 langkah untuk mendukung dunia usaha, termasuk tambahan keringanan pajak senilai US$21 miliar dan juga pajak kendaraan.

Pemerintah daerah diminta untuk membelanjakan sebagian besar hasil dari obligasi senilai 3,65 triliun yuan digunakan terutama untuk infrastruktur pada akhir Agustus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china manufaktur china perang dagang AS vs China Lockdown
Editor : Reni Lestari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top