Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terungkap! Pejabat The Fed Pertimbangkan 2 Kali Lagi Kenaikan Suku Bunga

Setelah menaikkan suku bunga Fed Fund Rate sebesar 50 basis poin pada Mei 2022, pejabat Federal Reserve atau the Fed menilai bank sentral masih perlu menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada dua pertemuan berikutnya.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 26 Mei 2022  |  14:06 WIB
Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg - Samuel Corum
Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg - Samuel Corum

Bisnis.com, JAKARTA - Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, masih akan agresif dalam menjalankan kebijakan suku bunga moneternya guna meredam inflasi yang panas.

Setelah menaikkan suku bunga Fed Fund Rate sebesar 50 basis poin pada Mei 2022, pejabat Federal Reserve atau the Fed menilai bank sentral masih perlu menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada dua pertemuan berikutnya.

Kebijakan ini melanjutkan serangkaian langkah agresif yang akan memberi mereka fleksibilitas untuk mengubah arah bank sentral nanti jika diperlukan.

Dalam risalah pertemuan the Fed pada 3-4 Mei 2022, yang dirilis Rabu (25/5/2022), menunjukkan para pejabat memperhatikan kondisi keuangan saat mereka bersiap untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. The Fed juga menyoroti komitmen dan tekad yang kuat dari semua pembuat kebijakan untuk memulihkan stabilitas harga.

Sejak pertemuan Fed awal bulan ini, volatilitas pasar keuangan telah melonjak karena investor resah atas risiko resesi, meskipun investor bersorak karena mereka mencerna nada laporan yang kurang hawkish daripada yang ditakuti.

Adapun, risalah FOMC the Fed menunjukkan ketidakpastian atas potensi garis patahan di pasar keuangan serta tingkat suku bunga apa yang akan membatasi permintaan karena para pejabat memerangi tekanan inflasi terpanas dalam 40 tahun terakhir. Referensi untuk kemungkinan pindah ke kebijakan restriktif juga menandakan pejabat tidak akan berhenti sampai inflasi berada di jalur yang meyakinkan atau kembali ke target 2% mereka.

Hal ini adalah strategi yang menandakan kebijakan akan lebih bergantung pada data setelah pertemuan Fed pada bulan Juni dan Juli.

Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic menyarankan jeda kenaikan suku bunga pada September mungkin masuk akal jika tekanan harga mereda.

“Tidak masuk akal untuk berpikir bahwa The Fed menggarisbawahi bahwa jalan mulai September dan seterusnya tidak diatur dalam batu,” tulis Krishna Guha dan Peter Williams dari Evercore ISI dalam sebuah catatan kepada klien.

"Tapi kami akan berhati-hati untuk tidak berlebihan dan membaca ke dalam bahasa Fed segala jenis sinyal seperti jeda September, menurut keduanya.

Risalah FOMC mengungkapkan bahwa sebagian besar peserta menilai bahwa kenaikan 50 basis poin dalam kisaran target kemungkinan akan sesuai pada beberapa pertemuan berikutnya.

“Banyak peserta menilai bahwa mempercepat penghapusan akomodasi kebijakan akan membuat komite berada pada posisi yang baik akhir tahun ini untuk menilai efek dari pengetatan kebijakan dan sejauh mana perkembangan ekonomi memerlukan penyesuaian kebijakan,” tulis risalah tersebut

Pejabat Fed mencatat bahwa sikap kebijakan yang membatasi mungkin menjadi tepat tergantung pada prospek ekonomi yang berkembang dan risiko ekonomi ke depannya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi suku bunga acuan the fed

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top