Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produsen Raksasa Produk Alas Kaki Relokasi Pabrik Ke Bangladesh, Indonesia Mesti Hati-Hati!

Di tengah persaingan ketat dengan Bangladesh, Pemerintah melalui Perpres No. 74/2022 tentang Kebijakan Industri Nasional (KIN) mematok target investasi senilai Rp21,7 triliun per tahun untuk industri kulit dan alas kaki dalam tahapan capaian periode 2022 - 2024.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 23 Mei 2022  |  16:17 WIB
Alas Kaki - Antara
Alas Kaki - Antara

Bisnis.com, JAKARTA- Industri alas kaki Tanah Air mesti ekstra hati-hati terhadap Bangladesh selaku kompetitor utama. Apabila lengah, target investasi senilai Rp21,7 triliun per tahun pun bakal menjadi kurang realistis.

Seperti diketahui, dalam Perpres No. 74/2022 tentang Kebijakan Industri Nasional (KIN) pemerintah mematok target investasi senilai Rp21,7 triliun per tahun untuk industri kulit dan alas kaki dalam tahapan capaian periode 2022 - 2024.

Namun, target tersebut dinilai terlalu optimistis dan kurang realistis melihat kondisi persaingan antara Indonesia dan Bangladesh sebagai produsen terbesar lainnya dalam beberapa tahun belakangan.

Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira, perusahaan multinasional maupun outsourcing di industri alas kaki berbondong-bondong merelokasi pabrik ke Bangladesh dalam 10 tahun terakhir.

Salah satu penyebab utamanya, kata Bhima, adalah upah tenaga kerja. Di Jawa Tengah saja, jelasnya, upah rata-rata tenaga kerja di industri terkait masih berada di kisaran Rp1,8 juta per bulan.

Sementara itu, upah minimum di Bangladesh masih berkisar Rp1,3 juta per bulan atau sekitar US$93.

"Target pemerintah masih over optimistis karena tantangan di industri alas kaki sangat komplek. Bahkan, upah pekerja di Indonesia pun bukan lagi menjadi faktor paling kuat relokasi industri alas kaki," ujar Bhima ketika dihubungi, Senin (23/5/2022).

Selain perihal upah tenaga kerja, Bhima menyebut investasi di bidang mesin ataupun teknologi modern masih menjadi kelemahan pabrikan dalam negeri.

Kondisi tersebut merugikan. Sebab, kata Bhima, beberapa brand besar seperti Nike dan Adidas cenderung mengalihkan pesanan ke Vietnam karena investasi mesin pabrikan di negara tersebut cukup tinggi.

Dengan kata lain, sambungnya, investasi dalam masuk ke era Industri 4.0 harus diperbesar agar industri alas kaki RI tetap dapat bersaing dengan negara-negara kompetitor.

"Bank di dalam negeri juga perlu membantu menurunkan tingkat suku bunga, khususnya untuk kredit investasi seperti pembelian mesin baru dan perluasan area pabrik," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top