Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Impor Mesin dan Peralatan Menurun, Industri Masih Butuh Bantuan Fiskal?

Impor mesin dan peralatan hanya satu sinyal pelambatan industri di dalam negeri. Mengutip Data Bank Indonesia (BI), indeks pembelian durable goods untuk tingkat pengeluaran di rentang Rp1-2 juta pada April 2022 turun dari 90 poin pada Maret menjadi 83,1 poin.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 17 Mei 2022  |  18:20 WIB
Seorang pekerja melakukan proses produksi minuman kemasan Nu Green Tea Royal Jasmine di pabrik PT ABC President Indonesia, Karawang, Jawa Barat, Rabu (16/4/2014).  - Antara Foto/Wahyu Putro A.rn
Seorang pekerja melakukan proses produksi minuman kemasan Nu Green Tea Royal Jasmine di pabrik PT ABC President Indonesia, Karawang, Jawa Barat, Rabu (16/4/2014). - Antara Foto/Wahyu Putro A.\r\n

Bisnis.com, JAKARTA- Pengamat ekonomi berharap pemerintah tidak mencabut fasilitas insentif fiskal di sektor manufaktur sebagai langkah untuk mengantisipasi lesunya industri tersebut pada bulan-bulan mendatang.

Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira, penurunan impor di sektor non migas yang terjadi pada April 2022 karena kontraksi dialami oleh komoditas utama manufaktur, yakni mesin dan peralatan, berpotensi kembali berlangsung pada Mei.

"Kelihatannya pada Mei [2021] bisa lebih tertekan. Untuk sektor nonmigas, kemungkinan penurunannya bisa lebih dalam hingga 15 persen," kata Bhima ketika dihubungi, Selasa (17/5/2022).

Hal itu, sambungnya, terindikasi terutama dari turunnya pembelian durable goods seperti sepeda motor dan perangkat elektronik lainnya selama April 2022. Dengan kata lain, industri manufaktur Tanah Air belum masuk ke fase optimistis.

Mengutip Data Bank Indonesia (BI), indeks pembelian durable goods untuk tingkat pengeluaran di rentang Rp1-2 juta pada April 2022 turun dari 90 poin pada Maret menjadi 83,1 poin.

Selama periode Januari - April 2022, jumlah sepeda motor yang terjual sebanyak 1,7 juta unit. Turun dari periode yang sama tahun lalu di mana total penjualan mencapai 1,76 juta unit.

"Pemerintah mungkin bisa bantu meningkatkan konfiden dalam negeri lewat penjagaan stabilitas harga pangan dan insentif pajak terhadap sektor manufaktur tetap dilanjutkan paling tidak hingga akhir tahun," ujarnya.

Sebagai informasi, hari ini Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi penurunan impor pada April 2022 sebesar 10,01 persen secara month-to-month (mtm). Turun senilai US$2.198,7 juta sehingga total impor nasional April 2022 senilai US$19.763,7.

Penurunan impor dikontribusi oleh sektor nonmigas dengan nilai mencapai US$15.949,8 juta atau turun 13,65 persen dibandingkan dengan bulan Maret 2022.

Mesin dan peralatan menjadi komoditas terbesar yang berkontribusi terhadap lesunya impor nonmigas RI pada periode April 2022 yang turun 17,68 persen mtm dengan nilai total US$483,4 juta.

Sementara itu, pada Maret 2022 nilai impor komoditas mesin/peralatan mekanis dan bagiannya mencapai sekitar US$568,86 juta.

Adapun, komoditas tersebut memiliki kontribusi terhadap pangsa pasar impor nonmigas Indonesia sebesar 3,03 persen secara keluruhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top