Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Suplai Baja Perlambat Laju Proyek Mobil Listrik Indonesia

Target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen utama kendaraan listrik di pasar domestik maupun global masih terhambat akibat bahan baku baja.
Industri baja/Bisnis.com
Industri baja/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Target pemerintah untuk menempatkan Indonesia sebagai produsen utama electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik di pasar domestik maupun global masih menggantung karena masalah ketersediaan bahan baku baja.

Sebagaimana diketahui, pada 2030 pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pemain utama dalam produksi kendaraan bermotor Internal Combustion Engine (ICE) maupun EV untuk pasar domestik maupun ekspor.

Sektor otomotif ditargetkan mengalami peningkatan volume produksi sampai dengan 3 juta unit pada 2030 dengan porsi sebanyak 25 persen diantaranya adalah kendaraan berbasis listrik, dengan target ekspor sebanyak 900.000 unit.

Namun, dalam Perpres No. 74/2022 tentang Kebijakan Industri Nasional (KIN) 2020 - 2024, ketersediaan bahan baku baja (industri hulu) dalam negeri diakui oleh pemerintah masih belum mampu mendukung kebutuhan industri perakitan atau tier I otomotif.

"Permasalahan yang ada dalam proses produksi kendaraan bermotor di Indonesia adalah masih dibutuhkannya baja khusus yang harus diimpor karena produk dari pabrik baja domestik masih fokus kepada baja konstruksi," tulis beleid tersebut seperti dikutip, Senin (16/5/2022).

Sementara itu, untuk mendukung pengembangan produk substitusi komponen/bahan baku impor untuk kendaraan bermotor pun masih diperlukan pendampingan dari pemerintah. Impor baja juga masih terkendala oleh situasi global, termasuk perang antara Rusia - Ukraina.

Kendati demikian, Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) memproyeksikan impor baja nasional tahun ini tetap meningkat 12,5 persen menjadi 3,6 juta ton, sedangkan volume ekspor menurun 25 persen menjadi 2,3 juta ton.

Proyeksi tersebut mengikuti pertumbuhan konsumsi baja nasional pada 2022 yang diprediksi tumbuh sekitar 7-8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menjadi 16,3 juta ton.

Sekadar informasi, data Worldsteel Association hingga akhir Januari 2022 mencatat produksi baja Indonesia tahun lalu berada di posisi 19 dunia, dan berada di bawah sejumlah negara seperti Kanada (12,8 juta ton), Prancis (13,9 juta ton), dan Spanyol (14 juta ton).


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper