Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Arab Saudi dan UEA Peringatkan Stok Minyak Menipis

Dua negara yang menjadi produsen minyak terbesar di dunia yakni Arab Saudi dan UEA memperingatkan risiko yang berpeluang muncul di sektor energi global.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 10 Mei 2022  |  19:13 WIB
Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai. - Bloomberg/Angel Navarrete
Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai. - Bloomberg/Angel Navarrete

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen minyak terbesar di dunia yakni Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) memperingatkan menipisnya kapasitas di seluruh sektor energi lantaran produknya diborong usai konflik antara Rusia dan Ukraina terjadi.

"Saya sudah sangat tua, tetapi saya belum pernah melihat kejadian seperti ini," ungkap Menteri Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman saat menghadiri pertemuan OPEC di Abu Dhabi, seperti dilansir Bloomberg pada Selasa (10/5/2022),

Menurutnya, dunia harus sadar terhadap kenyataan yang ada bahwa dunia mulai kehabisan pasokan energi.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya investasi pada industri produksi dan penyulingan sehingga harga bahan bakar melonjak.

Sementara itu, Menteri Energi UEA Suhail al Mazrouei mengungkapkan dalam panel yang sama bahwa tanpa investasi global, OPEC+ tidak akan bisa menjamin pasokan minyak yang cukup setelah permintaan pulih pascapandemi.

Kedua negara ini telah menghabiskan investasi miliaran dolar AS untuk meningkatkan kapasitas minyak mentah hingga 2 juta barel per hari hingga akhir dekade ini.

Adapun produsen lainnya masih berjuang untuk mencari pendanaan karena pemegang saham dan pemerintah mendorong peralihan bahan bakar fosil ke energi terbarukan.

Namun, untuk saat ini, belum ada yang melaporkan kekurangan minyak sehingga OPEC+ belum berencana mempercepat peningkatan produksi.

"Pasarnya seimbang," ungkapnya.

Negara-negara seperti Amerika Serikat dan kawasan Eropa telah menekan anggota OPEC untuk meningkatkan pasokan mereka.

Harga minyak mentah telah melonjak lebih dari 35 persen tahun ini menjadi sekitar US$105 per barel, utamanya karena serangan Rusia.

Sebelumnya, negara dengan ekonomi terbesar yang tergabung dalam G7 telah berjanji untuk menyetop impor minyak dari Rusia karena invasinya di Ukraina.

Kendati demikian, Pangeran Abdulaziz menekankan bahwa kondisi geopolitik tidak boleh memengaruhi keputusan OPEC+.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec arab saudi harga minyak mentah uni emirat arab
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top