Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jalur Puncak Kerap Macet Parah, Pengamat Tuding Korupsi Jadi Biang Keladinya

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dinilai terlalu fokus mempromosikan dan membangun jalur Puncak sebagai tempat wisata.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 04 Mei 2022  |  16:24 WIB
Sejumlah kendaraan melintas menuju kawasan Ciawi, Lido dan Sukabumi setelah pintu keluar tol Jagorawi akibat penutupan jalan menuju Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/5/2022). Antrean panjang kendaraan tersebut terjadi akibat sistem satu arah yang diberlakukan Satlantas Polres Bogor di jalur wisata Puncak, Bogor untuk mengurai kepadatan di hari kedua Idul Fitri 1443 H. - Antara
Sejumlah kendaraan melintas menuju kawasan Ciawi, Lido dan Sukabumi setelah pintu keluar tol Jagorawi akibat penutupan jalan menuju Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/5/2022). Antrean panjang kendaraan tersebut terjadi akibat sistem satu arah yang diberlakukan Satlantas Polres Bogor di jalur wisata Puncak, Bogor untuk mengurai kepadatan di hari kedua Idul Fitri 1443 H. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dinilai terlalu fokus mempromosikan dan membangun jalur Puncak sebagai tempat wisata. Hal tersebut membuat Puncak kerap didatangi wisatawan yang berdampak pada kemacetan pada setiap libur akhir tahun dan pascalebaran seperti yang terjadi saat ini.

Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan menuding Pemkab Bogor justru abai terhadap pembangunan infrastruktur tempat wisata lain selain Puncak. Padahal, banyak destinasi wisata di daerah Bogor yang tidak kalah menarik dibanding Puncak, Cisarua.

“Padahal, ada Sentul, ada Ciapus yang juga bagus sebagai tempat wisata. Ciapus jelek jalannya. Di sana banyak curug, saya bilang seribu curug di sana. Karena hal itu, wilayah Bogor yang lain jadi tidak menarik karena fasilitas untuk masyarakat tidak ada. Ada gula di situ ada semut,” ujar Azas saat dihubungi Bisnis, Rabu (4/5/2022).

Azas juga menilai, pembangunan kawasan Puncak sebagai destinasi wisata utama Bogor untuk menutupi perilaku korup para pejabat Pemkab Bogor.

Sebagai informasi, Bupati Bogor Ade Yasin diduga melakukan tindak pidana korupsi sehingga dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ade diduga terlibat suap proyek jalan alternatif Sentul-Pakansari atau proyek Cibinong Beautiful City.

Bupati sebelumnya, Rahmat Yasin yang tak lain juga kakak Ade, juga dipenjara lantaran terlibat kasus suap pemberian alih fungsi hutan lindung di kawasan Puncak.

“Saya melihat, Puncak terlalu diperhatikan untuk menutupi perilaku koruptif tadi. Supaya infrastruktur yang rusak di wilayah Bogor selain Puncak tidak kelihatan,” ungkapnya.

Menurut Azas, banyak yang sudah memberikan masukan terkait macetnya Puncak tersebut sejak jauh-jauh hari. Namun, Pemkab Bogor tidak menjalankan rekomendasi-rekomendasi tersebut.

“Solusi ada, tapi Pemkab Bogor dan kepolisian tidak pernah menjalankan rekomendasi-rekomendasi dari Badan Pengawas Trasnportasi Jabodetabek. Misalnya dijalankannya one way, buka tutup dan ganjil genap secara bersamaan dan konsisten. Selanjutnya bagaimana membangun moda transportasi umum ke Puncak sehingga tidak melulu menggunakan transportasi pribadi,” terangnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, seharusnya pemda juga melakukan survei dengan terjadinya macet itu apakah memberikan keuntungan secara ekonomi kepada warga sekitar.

“Ada gak pengaruhnya, positif tidak. Jika tidak ya sudah batasi saja (yang ke Puncak),” ucapnya.

Kemacetan parah terjadi di Jalan Raya Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Kendaraan menuju Puncak maupun sebaliknya nyaris tidak bergerak.

Sebelumnya, arus lalu lintas di Puncak, Bogor, macet sejak pagi tadi. Polisi menyebut ada 90 ribu kendaraan memadati kawasan Puncak, Bogor, hingga siang hari ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bupati bogor Arus Balik jalur puncak
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top