Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lebaran 2022: Harga Rumah di Jabodetabek Naik, Ini Pilihan Masyarakat

Kenaikan harga rumah di Jabodetabek menjelang Lebaran, menyebabkan konsumen beralih membeli rumah yang lebih murah yang terkonsentrasi di wilayah Pinggiran Jakarta
Faustina Prima Martha
Faustina Prima Martha - Bisnis.com 02 Mei 2022  |  09:44 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan perumahan subdisi di kawasan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/1/2022). Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan perumahan subdisi di kawasan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/1/2022). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Harga rumah di wilayah Jabodetabek mengalami kenaikan menjelang Lebaran. Berdasarkan data statistik Flash Report Rumah123.com mencatatkan bahwa harga rumah di Jabodetabek, secara month-on-month, mengalami peningkatan. Jakarta, Tangerang, Depok, Bogor, dan Bekasi mengalami kenaikan sebesar 0,1 persen, 0,7 persen, 0,2 persen 2,9 persen, dan 0,1 persen berturutan. Kenaikan harga bulanan tercepat terjadi di Kota Bogor dengan kenaikan harga sebesar 2,9 persen.

Secara year-on-year, dari Maret 2021 hingga Maret 2022, semua kota di Jabodetabek mencatat kenaikan harga di Jakarta, Tangerang, Depok, Bogor dan Bekasi harganya meningkat sebesar 1,5 persen, 5,0 persen, 3,3 persen, 2,7 persen dan 3,2 persen berturutan.

Kenaikan harga rumah tersebut menyebabkan pergeseran minat konsumen property di Jabodetabek untuk membeli rumah dengan harga yang lebih murah.

Wakil Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) DKI Jakarta dan CEO PT Provalindo Nusa, Chandra Rambey mengungkapkan fenomena tersebut disebabkan karena kondisi ekonomi saat ini belum sepenuhnya pulih dari konstraksi karena resesi ekonomi yang masih berlangsung akibat pandemi.

“Pandemi Covid-19 telah merubah perilaku pembelian rumah atau investasi secara umum,” ucap Chandra, Senin (2/4/2022).

Chandra menyebutkan, motif membeli rumah itu secara umum bisa dibagi menjadi dua yakni membeli rumah karena kebutuhan (needs) yang merupakan rumah pertama yang banyak dibeli oleh keluarga muda dan yang membeli rumah untuk investasi, yang biasanya bukan rumah pertama.

Kendati harga rumah di Jabodetabek mengalami kenaikan menjelang Idul Fitri, pembeli rumah untuk kebutuhan tetap membeli rumah.

“Pembeli dengan motif kebutuhan (basic needs) akan tetap berusaha merealisasikan pembelian rumah karena memang memang dibutuhkan dan biasanya ini rumah pertama. Dengan adanya kenaikan harga rumah realisasi penjualan rumah akhir-akhir ini didominasi rumah yang menjadi kebutuhan biasanya kisaran harganya Rp500 juta - 1 M,” papar Chandra.

Menurut, Chandra keluarga muda yang mendominasi pembelian rumah jenis tersebut kebanyakan membeli melalui skema KPR

“Sebagian keluarga muda pembeli rumah berharga terjangkau mengambil KPR dengan cicilan jangka panjang 15 sampai 20 tahun,” imbuhnya.

Adapun lokasi rumah tipe menengah bawah berada di wilayah suburban alias wilayah pinggiran Jakarta, yakni Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Bertolak belakang dengan pembeli rumah dengan motif kebutuhan, melihat masih tingginya ketidakpastian ekonomi dunia, pembeli rumah dengan motif investasi akan menahan diri untuk merealisasikan pembelian (investasinya).

“Biasanya rumah yang dijadikan untuk invetasi bukan rumah pertama tapi rumah kedua atau ketiga, dan relatif rumah untuk investasi akan lebih tinggi harganya,” pungkas Chandra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rei penjualan properti harga rumah lebaran rei dki jakarta investasi properti
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top