KINERJA 2021 DAN PROSPEK 2022: Perjalanan ‘Emas’ Petrosea, Transformasi Berbuah Prestasi

Tak banyak perusahaan dan emiten di Indonesia yang berhasil melewati tahun kedua pandemi Covid-19 di usianya yang tak lagi muda, yaitu 50 tahun, dengan mencatatkan kinerja mentereng dan PT Petrosea Tbk. (PTRO) adalah salah satunya.
Foto: dok. PT Petrosea Tbk.
Foto: dok. PT Petrosea Tbk.

Bisnis.com, JAKARTA — PT Petrosea Tbk. (PTRO), emiten kontrak pertambangan, rekayasa, pengadaan dan konstruksi serta jasa migas berhasil melewati usia ‘emasnya’ pada 21 Februari lalu dengan mencetak pertumbuhan bottom line sekaligus menurunkan beban utang.

Petrosea, perusahaan rekayasa dan konstruksi pertama di Indonesia yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1990, berhasil mencetak laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$33,71 juta atau setara Rp486,03 miliar (kurs Jisdor Bank Indonesia Rp14.418 per dolar AS) pada 2021, naik 4,43% secara year on year (yoy) dari sebelumnya US$32,28 juta.

Kinerja bottom line yang cukup meyakinkan itu tentu saja tidak dapat dipandang sebelah mata mengingat Indonesia tengah berjibaku menghadapi gelombang kedua virus Covid-19 varian Delta, yang mencapai puncak dengan 56.757 kasus pada 15 Juli 2021.

Adapun, dari sisi rasio profitabilitas, margin laba kotor tercatat 17,93% dan margin laba bersih 8,11%. Selanjutnya, untuk rasio profitabilitas lainnya, rasio laba terhadap ekuitas sebesar 13,05% dan rasio laba terhadap aset sebesar 6,37%.

Sementara itu, perseroan membukukan pertumbuhan pendapatan dua digit, yaitu 22,03% dengan raihan sebesar US$415,74 juta per 31 Desember 2021 (yoy) atau setara Rp5,99 triliun. Pencapaian itu ditopang oleh pendapatan penambangan yang meningkat 42,4% menjadi US$298,29 juta pada akhir 2021.

Pada saat bersamaan, Petrosea berhasil menurunkan utang menjadi US$135,82 juta atau turun 32,73%. Jumlah liabilitas perseroan tercatat turun 8,63%, dari US$298,24 juta pada akhir 2020 menjadi US$272,5 juta pada akhir 2021.

Pengelolaan liabilitas yang efektif itu berkat adanya penurunan beban bunga dan keuangan sebesar 42,65% menjadi US$5,58 juta.

Rutin membukukan bottom line yang meyakinkan dalam beberapa tahun terakhir, entitas anak PT Indika Energy Tbk. (INDY) tersebut meyakini capaian perseroan pada 2022 masih bisa lebih dipacu lagi.

Transformasi Bisnis

Guna mewujudkan ambisi itu, perseroan pun bertransformasi dengan menggunakan pendekatan bisnis 3D, yaitu Diversifikasi, Digitalisasi, dan Dekarbonisasi.

Presiden Direktur Petrosea Hanifa Indradjaya menyatakan ketiga pendekatan itu merupakan elemen yang saling berpengaruh satu sama lain dalam memperkuat bisnis perseroan jangka panjang.

“Strategi 3D Petrosea, yaitu Diversifikasi, Digitalisasi dan Dekarbonisasi telah menjadi enabler bagi kami untuk terus mengembangkan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan serta memastikan sustainable superior performance di masa mendatang,” ujar Hanifa dalam penjelasannya beberapa waktu lalu.

Elemen diversifikasi yang dimaksudnya itu berkaitan dengan kontrak klien. Ke depan, katanya, perseroan berencana mengurangi ketergantungannya pada kontrak-kontrak pertambangan batu bara agar volatilitas kinerja akibat fluktuasi harga komoditas ini dapat diminimalisir.

Untuk itu, memasuki usianya yang ke-50, emiten yang pernah membukukan all time best financial performance pada 2020 itu, terjun ke ranah proyek mineral sebagai implementasi komitmen untuk melakukan diversifikasi bisnis.

Selain itu, strategi diversifikasi emiten yang pada 2019 dipilih oleh World Economic Forum sebagai satu-satunya perusahaan tambang dan satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk ke dalam Global Lighthouse Network berkat kesuksesan mengimplementasikan teknologi Industri 4.0 itu, juga menandatangani berbagai perjanjian kerja sama untuk tambang bauksit dan emas melalui penyediaan jasa pertambangan dan rekayasa, pengadaan dan konstruksi (engineering procurement construction/EPC) secara berkelanjutan.

“Ke depan, Petrosea bukan hanya akan bertindak sebagai kontraktor, tetapi juga sebagai pemilik dan operator dari tambang-tambang mineral yang esensial bagi proses transisi energi ke energi terbarukan, sebagai bagian dari pelaksanaan strategi 3D, yaitu Diversifikasi, Digitalisasi dan Dekarbonisasi untuk terus mengembangkan value proposition kepada seluruh stakeholder,” tegas Hanifa.

Sebagai informasi, hingga akhir Maret 2022, PT Indika Energy Tbk. (INDY) menggenggam 69,8% saham PTRO, disusul kemudian oleh Lo Kheng Hong, investor fundamental yang sering dijuluki sebagai Warren Buffett-nya Indonesia (15,01%), dan masyarakat (13,5%).

Untuk elemen digitalisasi, pada 2021, perusahaan telah menambah kegiatan usahanya di bidang digitalisasi, 3D printing & rebuild center dan lembaga pelatihan kerja dan sertifikasi. “Digitalisasi itu tak hanya memakai tools digital, tetapi kami yang menjadi digital. Dalam artian pola pikir, pola kerja, bahkan struktur perusahaan semuanya mencerminkan cara kerja digitalisasi.”

Adapun, elemen D terakhir, yaitu dekarbonisasi sangat berkaitan erat dengan elemen diversifikasi. Petrosea berkomitmen agar dalam kebijakan diversifikasi, kontrak-kontrak dengan perusahaan non-emisi gas, seperti emas dan mineral, diperbanyak.

Petrosea berkomitmen penuh untuk memprioritaskan aspek Environmental, Social & Governance (ESG) dan penerapan strategi keberlanjutan yang sejalan dengan praktik-praktik tata kelola perusahaan yang baik demi mendukung pencapaian tujuan pengembangan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

“Kedepannya, Petrosea akan terus memanfaatkan teknologi terkini melalui Minerva Digital Platform yang terbukti telah dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi kegiatan operasional, serta mengurangi emisi karbon yang dihasilkan,” jelas Hanifa.

Merujuk pada transformasi bisnis yang dilakukan Petrosea, tampaknya perseroan berkomitmen menerapkan triple bottom line, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh John Brett Elkington, penasihat ekonomi dan penulis serial entrepreneur.

Triple bottom line adalah sebuah konsep pengukuran kinerja suatu usaha secara holistik dengan memperhatikan ukuran kinerja ekonomis berupa perolehan profit, ukuran kepedulian sosial, dan pelestarian lingkungan (People-Planet-Profit)

Prospek saham

Kinerja pertumbuhan pendapatan dan laba bersih Petrosea yang solid dalam enam tahun terakhir juga selaras dengan pergerakan harga saham perseroan yang positif.

Bertengger di level Rp500-an per lembarnya pada 2016, harga saham PTRO kini merangsek di level Rp3.000-an pada kuartal I/2022.

Sejumlah analis pun, diantaranya Kiwoom Sekuritas Indonesia, Valbury Sekuritas, Reliance Sekuritas Indonesia, Binaartha Sekuritas hingga Surya Fajar Sekuritas menyematkan target beli untuk saham PTRO.

Bahkan, target harga yang dipatok oleh Valbury dan Surya Fajar tercatat sudah terlampaui jika merujuk pada perdagangan Kamis, (27/4) yang ditutup di level Rp2.880 per saham.

Riset Kiwoom Sekuritas pada 12 April mencatat kinerja keuangan Petrosea bakal terus menguat seiring dengan tren kenaikan harga batu bara dan kencangnya target pengupasan tanah dan batu bara (overburden removal).

Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas memproyeksikan pendapatan perseroan pada 2022 bakal kembali tumbuh hingga mencapai US$500 juta atau naik 20,3% (yoy) seiring dengan target overburden removal yang naik 9% (yoy) menjadi 131 Mbcm.

Alhasil, perseroan diproyeksikan bakal mengantongi laba bersih hingga US44 juta atau bertumbuh dua digit 30% (yoy) pada 2022 dengan asumsi rasio net profit margin atau NPM (tingkat keuntungan dari pendapatan) membaik ke level 8,8%, dari tahun sebelumnya 8,1%.

Tak heran jika Kiwoom menyarankan beli dengan target harga Rp3.300. Pasalnya, dengan harga fair value PTRO di level Rp3.410 saja, sahamnya mencerminkan price earning ratio (PER) sebesar 5,1 kali dan price to book value (PBV) 0,9 kali.

Jika mengacu pada rule of thumb investasi ala Lo Kheng Hong, di mana PER kurang dari 10 kali dan PBV di bawah 1 kali, maka Petrosea masuk dalam jajaran wonderful company dengan fair price.

Sementara itu, riset Reliance Sekuritas menyebut ketatnya kompetisi antarkontraktor tambang menjadi faktor risiko terbesar bagi PTRO.

“Makanya, target kontrak baru dan akuisisi pada tahun-tahun ke depan menjadi faktor krusial yang harus dicermati. Untungnya, PTRO adalah bagian dari Indika Energy sehingga kontrak baru pada tahun-tahun mendatang terjamin,” tulis Alwin Rusli dan Lukman Hakim, analis Reliance Sekuritas dalam risetnya.

Analis Binaartha Sekuritas Revita Dhiah Anggrainy pun menyebut sejumlah kontrak-kontrak baru yang diraih Petrosea akan menjamin pertumbuhan pendapatan perseroan di masa depan.

“Misalnya kontrak dengan PT Mekko Metal Mining untuk proyek bauksit selama 5 tahun senilai US$100 juta, kontrak selama 7 tahun dengan PT Kartika Selabumi Mining senilai US$183 juta hingga kontrak 4 tahun dengan PT Central Cipta Murdaya senilai US$265 juta,” tulis Revita dalam risetnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Media Digital
Editor : Media Digital
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

# Hot Topic

Rekomendasi Kami

Foto

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper