Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Optimisme Pengusaha Tekstil Malah Loyo Jelang Lebaran, Ini Sebabnya

Barang-barang impor ilegal terpantau ikut menikmati legitnya pasar Lebaran di Tanah Air, khususnya yang masuk melalui marketplace.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 22 April 2022  |  00:53 WIB
Optimisme Pengusaha Tekstil Malah Loyo Jelang Lebaran, Ini Sebabnya
Sejumlah karyawan tengah memproduksi pakaian jadi di salah satu pabrik produsen dan eksportir garmen di Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/1/2022). Bisnis - Rachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Jelang momentum Lebaran, optimisme pelaku usaha tekstil justru menurun karena sejumlah faktor.

Ketua Umum Asosiasi Serat, Benang, dan Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan barang-barang impor ilegal terpantau ikut menikmati legitnya pasar Lebaran di Tanah Air, khususnya yang masuk melalui marketplace.

Dicurigai barang-barang tersebut ilegal karena harganya jauh lebih murah dan tidak ada label Standar Nasional Indonesia (SNI). Adapun, untuk pengendalian impor, pemerintah telah menerbitkan sejumlah peraturan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard.

"Kemarin kami sangat optimistis, tetapi begitu lihat masih ada barang-barang [impor ilegal] masuk seperti itu, kami agak khawatir. Mudah-mudahan saja [produk domestik] bisa di-absorb full oleh market," katanya kepada Bisnis, Kamis (21/4/2022).

Dia memproyeksikan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dapat mencapai pertumbuhan di atas 3 persen pada semester I/2022. Adapun pada kuartal I/2022, angka pertumbuhan seharusnya dapat mencapai di atas 5 persen, jika impor ilegal dapat dikendalikan.

Redma melanjutkan lonjakan penjualan pada momentum Lebaran akan ditentukan dalam dua minggu ke depan. Sejak awal tahun ini, lanjutnya, produsen bahan baku di hulu sudah memproduksi dengan jumlah melimpah, yang kemudian diserap oleh produsen tekstil dan industri kecil menengah (IKM) garmen.

"Kalau ritelnya bisa absorb, saya kira pertumbuhannya bisa sekitar 5 persen [di kuartal I/2022]," ujarnya.

Selain masuknya barang-barang impor ilegal, yang juga menggerus optimisme pengusaha yakni libur Lebaran yang dinilainya terlampau panjang sehingga akan berdampak pada produktivitas pabrikan.

Redma mengatakan, dengan libur panjang selama 10 hari dan tutupnya operasional sektor-sektor esensial, maka kinerja ekspor dipastikan juga akan terganggu.

"Terus produksi kami juga pasti berkurang. Jadi itu yang membuat kami di kuartal dua ini agak pesimistis," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tekstil Industri Tekstil lebaran
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top