Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Proyeksi Permintaan Baja Dunia, Negara Maju Paling Tinggi

Permintaan baja di negara maju diperkirakan akan meningkat masing-masing sebesar 1,1 persen dan 2,4 persen pada 2022 dan 2023, setelah pulih sebesar 16,5 persen pada 2021.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 16 April 2022  |  11:35 WIB
Proyeksi Permintaan Baja Dunia, Negara Maju Paling Tinggi
Roll forming adalah proses pengrolan dingin dengan tujuan pembentukan suatu profil baja (lapis paduan zinc atau zinc & aluminium atau zinc, aluminium, dan magnesium) menjadi produk akhir seperti atap gelombang, genteng metal, rangka atap, rangka plafon dan dinding. - ARFI
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Baja Dunia atau Worldsteel memperkirakan pertumbuhan permintaan paling tinggi tahun ini akan terjadi di negara maju. Terlepas dari gelombang infeksi Covid-19 yang sporadis dan kendala rantai pasokan sektor manufaktur, permintaan baja pulih dengan kuat pada 2021, terutama di Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Permintaan baja di negara maju diperkirakan akan meningkat masing-masing sebesar 1,1 persen dan 2,4 persen pada 2022 dan 2023, setelah pulih sebesar 16,5 persen pada 2021.

Máximo Vedoya, Ketua Komite Ekonomi Worldsteel mengatakan prospek 2022 telah melemah karena tekanan inflasi, yang semakin diperkuat oleh peristiwa di sekitar Ukraina.

"Dampak perang akan sangat terasa di Uni Eropa karena ketergantungannya yang tinggi pada energi Rusia dan arus masuk pengungsi," kata Vedoya dalam keterangannya, Sabtu (16/4/2022).

Secara keseluruhan, permintaan baja dunia akan tumbuh sebesar 0,4 persen pada 2022 mencapai 1.840,2 juta ton setelah meningkat sebesar 2,7 persen pada 2021. Pada 2023 permintaan baja akan mengalami pertumbuhan lebih lanjut sebesar 2,2 persen untuk mencapai 1.881,4 juta ton

Sementara itu di negara berkembang, pemulihan menghadapi lebih banyak tantangan dengan berlanjutnya dampak pandemi dan lonjakan inflasi, yang mendorong siklus pengetatan moneter.

Setelah turun sebesar 7,7 persen pada 2020, permintaan baja di negara berkembang tidak termasuk China tumbuh sebesar 10,7 persen pada 2021, sedikit lebih rendah dari perkiraan kami sebelumnya.

Pada 2022 dan 2023, negara-negara berkembang di luar China akan terus menghadapi tantangan eksternal yang memburuk, perang Rusia-Ukraina, dan pengetatan moneter AS, yang menyebabkan pertumbuhan yang rendah sebesar 0,5 persen pada 2022 dan 4,5 persen pada 2023.

Adapun, permintaan baja China mengalami perlambatan besar pada2021 karena tindakan keras pemerintah terhadap pengembang real estat. Permintaan baja di Negeri Panda pada 2022 akan tetap datar karena pemerintah mencoba untuk meningkatkan investasi infrastruktur dan menstabilkan pasar real estat.

Stimulus yang diperkenalkan pada 2022 kemungkinan akan mendukung pertumbuhan positif kecil dalam permintaan baja pada 2023. Ada potensi pertumbuhan sebagai dampak dari langkah-langkah stimulus yang lebih substansial, yang mungkin terjadi jika ekonomi menghadapi lebih banyak tantangan dari lingkungan eksternal yang memburuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

real estate baja china pengetatan moneter Perang Rusia Ukraina
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top