Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Eksportir Sebut Olahan Nikel Domestik Kalah Saing di Uni Eropa

Peluang ekspor produk olahan nikel ke Uni Eropa masih relatif kecil karena pembeli dari Benua Biru lebih condong pada produk asal Amerika Latin membuat daya saing industri dalam negeri rendah untuk pasar benua biru tersebut.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 16 April 2022  |  11:42 WIB
Eksportir Sebut Olahan Nikel Domestik Kalah Saing di Uni Eropa
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaksana Harian Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Djoko Widajatno mengatakan peluang ekspor produk olahan nikel ke Uni Eropa masih relatif kecil bagi pelaku usaha dalam negeri.

Djoko beralasan jarak geografis serta perilaku pembeli Uni Eropa yang lebih condong pada produk asal Amerika Latin membuat daya saing industri dalam negeri rendah untuk pasar benua biru tersebut.

“Jarak ke Eropa membuat produk Nikel kalah bersaing dengan peleburan yang mengolah scrap di sekitar Eropa, untuk memasarkan ke Eropa banyak kendala dalam perizinan. Eropa lebih tertarik nikel dari Amerika Latin karena mereka membantu Ras Hispanic, ada unsur sesama orang asal Eropa,” kata Djoko melalui pesan WhatsApp, Sabtu (16/4/2022).

Adapun pasar ekspor untuk sejumlah negara relatif terbuka lebar setelah Uni Eropa dan Amerika Serikat membatasi impor minyak dan gas serta produk lainnya dari Rusia pada awal tahun ini. Manuver perdagangan blok barat itu dilakukan untuk melumpuhkan Rusia dari sisi perekonomian setelah invasi yang diluncurkan ke Ukraina sejak Februari 2022.

Selain Rusia, Uni Eropa dan negara blok barat lainnya juga membatasi impor dari Belarusia. Dengan demikian, sejumlah komoditas unggulan Indonesia seperti batu bara, CPO, olahan nikel hingga besi dan baja dapat berpeluang mengisi kekosongan pasar di beberapa negara barat tersebut.

“Produk nikel dari Belarusia juga masih ada yang keluar lewat jalan tikus sehingga sampai ke Eropa, ini yang sukar diprediksi seperti halnya pasokan gas ke Eropa masih berjalan melewati kanal yang tidak diketahui,” kata dia.

Kendati demikian, dia mengatakan, peluang ekspor produk olahan nikel ke Uni Eropa masih dapat ditingkatkan di tengah momentum geopolitik tahun ini. Hanya saja eksportir harus mendapatkan kemudahan izin masuk ke Uni Eropa.

“Saat ini produk nikel dari smelter sudah terikat dengan investor di China, jadi 70 persen produk sudah terkitar kontrak,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Uni Eropa setuju untuk melarang impor batubara dari Rusia setelah laporan kekejaman Rusia di Ukraina mendorong para pejabat wilayah tersebut untuk memperluas sanksi putaran kelima. Paket sanksi, yang juga mencakup larangan sebagian besar truk dan kapal Rusia memasuki wilayah Uni Eropa ini, ditandatangani oleh diplomat blok itu Kamis (7/4/2022) dan diumumkan oleh Prancis.

Uni Eropa (UE) sempat menahan diri untuk tidak memukul sektor energi Rusia dalam putaran sanksi sebelumnya setelah Jerman dan Hungaria memblokir langkah tersebut karena ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil Rusia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa Rusia Nikel Perang Rusia Ukraina
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top