Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tergerus Rusia-Ukraina, Permintaan Baja Dunia Bakal Tumbuh Tipis Tahun Ini

Harapan pemulihan yang berkelanjutan dan stabil dari pandemi telah terguncang oleh perang Rusia vs Ukraina dan meningkatnya inflasi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 16 April 2022  |  09:43 WIB
Tergerus Rusia-Ukraina, Permintaan Baja Dunia Bakal Tumbuh Tipis Tahun Ini
Fasilitas pengolahan baja Gunung Raja Paksi - gunungrajapaksi.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Baja Dunia (Worldsteel) memperkirakan permintaan baja akan tumbuh sebesar 0,4 persen pada 2022 mencapai 1.840,2 juta ton setelah meningkat sebesar 2,7 persen pada 2021.

Pada 2023 permintaan baja akan mengalami pertumbuhan lebih lanjut sebesar 2,2 persen untuk mencapai 1.881,4 juta ton. Máximo Vedoya, Ketua Komite Ekonomi Worldsteel mengatakan proyeksi jangka pendek ini dikeluarkan di bawah bayang-bayang tragedi manusia dan ekonomi setelah invasi Rusia ke Ukraina.

"Kita semua berharap agar perang Rusia vs Ukraina segera diakhiri dengan damai dan secepat mungkin," kata Vedoya dalam keterangannya, Sabtu (16/4/2022).

Pada 2021, pemulihan dari guncangan pandemi ternyata lebih kuat dari yang diperkirakan di banyak wilayah, meskipun masalah rantai pasokan dan gelombang Covid-19 terus berlanjut. Namun, perlambatan yang lebih tajam dari yang diantisipasi di China menyebabkan pertumbuhan permintaan baja global yang lebih rendah pada 2021.

Vedoya mengatakan untuk 2022 dan 2023, prospeknya sangat tidak pasti. Harapan pemulihan yang berkelanjutan dan stabil dari pandemi telah terguncang oleh perang di Ukraina dan meningkatnya inflasi.

Dia mengatakan besarnya dampak konflik ini akan bervariasi di seluruh wilayah, tergantung pada perdagangan langsung dan eksposur keuangan ke Rusia dan Ukraina. Ada efek menghancurkan langsung di Ukraina, konsekuensi bagi Rusia, dan dampak besar pada Uni Eropa karena ketergantungannya pada energi Rusia dan kedekatan geografisnya dengan daerah konflik.

Selain itu, dampaknya juga akan dirasakan secara global melalui harga energi dan komoditas yang lebih tinggi, terutama bahan baku untuk produksi baja, dan gangguan rantai pasokan yang berkelanjutan, yang mengganggu industri baja global bahkan sebelum perang.

Selanjutnya, volatilitas pasar keuangan dan ketidakpastian yang meningkat akan melemahkan investasi.

Dampak global dari perang di Ukraina, bersama dengan pertumbuhan yang rendah di China, menunjukkan penurunan ekspektasi pertumbuhan untuk permintaan baja global pada 2022.

Sementara itu, ada pula risiko penurunan lebih lanjut dari lonjakan kasus Covid-19 di beberapa bagian dunia, terutama China, dan kenaikan suku bunga. Pengetatan kebijakan moneter AS yang diperkirakan akan merugikan ekonomi negara berkembang yang rentan secara finansial. Hal-hal itu menjadikan prospek untuk 2023 sangat tidak pasti.

"Perkiraan kami mengasumsikan bahwa konfrontasi di Ukraina akan berakhir pada 2022 tetapi sanksi terhadap Rusia sebagian besar akan tetap ada," ujarnya.

Selain itu, situasi geopolitik seputar Ukraina menimbulkan implikasi jangka panjang yang signifikan bagi industri baja global. Diantaranya adalah kemungkinan penyesuaian kembali arus perdagangan global, pergeseran perdagangan energi dan dampaknya terhadap transisi energi, dan konfigurasi ulang rantai pasokan global yang berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Rusia Perang Rusia Ukraina
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top