Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lonjakan Harga Pangan di Jazirah Arab Jadi Ujian di Bulan Ramadan

Kenaikan harga pangan di Jazirah Arab dan kawasan Afrika Utara menjadi cobaan di tengah bulan Ramadan tahun ini.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 10 April 2022  |  17:03 WIB
Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi -  Bisnis
Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Kenaikan harga pangan di Jazirah Arab dan kawasan Afrika Utara telah mengguncang rumah tangga sebagai dampak dari kemacetan rantai pasok yang disebabkan perang di Ukraina.

World Food Programme telah memperingatkan bahwa ketahanan masyarakat di kawasan ini berada pada titik puncak.

Lonjakan harga pangan global tercatat lebih dari 50 persen dari pertengahan 2020. Dampak lebih parah terjadi di Afrika Utara lantaran kekeliruan dalam manajemen ekonomi, kekeringan, dan kerusuhan sosial.

Negara dengan populasi besar seperti Mesir, Maroko dan Tunisia berjuang untuk mempertahankan subsidi pada makanan dan bahan bakar.

Uni Emirat Arab telah berupaya membantu sekutunya di Mesir yang merupakan konsumen gandum terbesar di dunia untuk menopang ketahanan pangannya. Mesir kini juga sedang mencari bantuan Dana Moneter Internasional (IMF).

Pada awal Maret, perang telah mendorong harga tepung terigu sebesar 19 persen dan minyak nabati sebesar 10 persen, kata pemerintah.

Perlu diketahui, rata-rata pendapatan rumah tangga di Mesir mencapai 5.000 pound Mesir atau US$272 per bulan. Sebanyak 31 persen digunakan untuk kebutuhan makan.

"[Ujian] apa lagi yang harus kami hadapi? Kami terpaksa untuk mengurangi dan mengurangi dan mengurangi, tetapi tidak banyak yang tersisa untuk dipangkas," tanya Ahmed Moustafa, seorang pengemudi berusia 35 tahun dan ayah dari tiga anak di Kairo. Dia sudah menjual beberapa peralatan untuk membeli makanan dan menutupi pengeluaran lainnya, seperti dilansir Bloomberg pada Minggu (10/4/2022).

Presiden Mesir Abdel-Fattah El-Sisi tengah berusaha mereformasi ekonomi sejak duduk di kursi pemerintahan pada 2014 tanpa memicu frustrasi rakyat.

Dia mengingatkan kepada rakyatnya agar menghindari kebiasaan lama makan berlebihan terutama selama Ramadan.

“Orang-orang berpikir bahwa meja makan saya terlihat berbeda. Saya bertanggung jawab di hadapan Tuhan," katanya.

Kendati mampu menghadapi efek pandemi dan mengelola inflasi, invasi Rusia pada 24 Februari telah memicu penarikan miliaran dolar AS dari pasar utang Mesir. Alhasil, pound Mesir terdevaluasi hingga 15 persen.

Kondisi lebih buruk terjadi di Tunisia, tempat kelahiran Arab Spring. Bank sentral telah memperingatkan bahwa tindakan tegas harus diambil untuk mereformasi ekonomi.

Namun, upaya semacam itu telah terhalang oleh serikat pekerja UGTT yang kuat. Tunisia juga beralih ke IMF di tengah peringatan tentang risiko gagal bayar utangnya.

Sementara itu, tetangganya di Maroko juga tidak lebih baik. Pertumbuhan diperkirakan akan turun menjadi 0,7 persen tahun ini, sekitar sepersepuluh dari tahun 2021.

Bank sentral memperkirakan inflasi akan mencapai 4,7 persen, relatif moderat dibandingkan dengan sebagian Eropa, meskipun menjadi yang tertinggi sejak krisis keuangan pada 2008.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi mesir arab Ramadan
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top