Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Batasi Pupuk Subsidi, Kadin Ramal Inflasi Pangan Naik

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) memperkirakan andil inflasi dari sektor pangan dapat mencapai di kisaran 0,5 persen hingga 1 persen pada tahun ini.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 06 April 2022  |  07:02 WIB
Petani beraktivitas di lahan persawahan di kawasan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (17/1/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Petani beraktivitas di lahan persawahan di kawasan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (17/1/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) memproyeksikan inflasi pada tahun ini bakal menyentuh di angka 3,5 persen yang didorong oleh kenaikan harga pangan, energi hingga krisis geopolitik.

Bahkan, Kadin memperkirakan andil inflasi dari sektor pangan dapat mencapai di kisaran 0,5 persen hingga 1 persen pada tahun ini.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Kadin Juan Permata Adoe mengatakan inflasi pangan yang relatif lebar itu didorong oleh kenaikan harga bahan baku hingga energi di tengah krisis geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang masih berlanjut hingga hari ini.

Krisis di kawasan Eropa Timur itu belakangan turut mengungkit harga pupuk untuk kebutuhan dalam negeri yang berimbas pada potensi melonjaknya harga pangan pada tahun ini.

“Harga pangan pasti naik bukan karena kita yang atur tetapi mengikuti mekanisme pasar karena bahan baku gasnya juga naik, kita kan masih impor potasium sampai sekarang, menurut saya memang harus diprioritaskan peruntukan pupuk ini,” kata Adoe melalui sambungan telepon, Selasa (5/4/2022).

Di sisi lain, Adoe meminta pemerintah untuk menaikkan harga jual produk pertanian seperti gabah kering panen (GKP) hingga jagung untuk mengimbangi biaya produksi yang terlanjur tinggi sejak akhir tahun lalu. Langkah itu diambil untuk memastikan kebijakan peruntukan pupuk dapat berjalan di tingkat petani.

“Pendapat saya inflasi itu baik dalam artian ekonominya bertumbuh, kalau biaya produksi naik biar petani menjualnya dengan harga baik makanya harga GKP dan jagung harus disesuaikan pada kondisi sekarang,” kata dia.

Berdasarkan data World Bank-Commodity Market Review per 4 April 2022, Pupuk Urea dan diamonium fosfat (DAP) mengalami kenaikan yang signifikan sejak Oktober 2021 yang berlanjut hingga Maret 2022.

Sepanjang Januari hingga Desember 2021 misalnya, DAP di pasar internasional mengalami kenaikan sebesar 76,95 persen. Saat awal tahun lalu, harga pupuk itu mencapai US$421 per ton, pencatatan itu berakhir di posisi US$745 per ton pada Desember 2021. Pada perdagangan Maret 2022, harga DAP sudah menyentuh di angka US$938,13 per ton.

Di sisi lain, Pupuk Urea mengalami peningkatan harga mencapai 235,85 persen sepanjang tahun lalu. Pupuk Urea sempat berada di harga US$265 per ton belakangan naik menjadi US$890 per ton pada Desember 2021. Pada perdagangan Maret 2022, harga pupuk urea sudah menembus US$907,89 per ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi pupuk pupuk subsidi Perang Rusia Ukraina
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top