Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setumpuk Tantangan Sektor Industri di Meja G20

Pertemuan pertama Trade, Investment, and Industry Working Group (TIIWG) G20 di Solo, Jawa Tengah pada 29-31 Maret 2022 telah usai digelar. Berikut ini rangkuman terkait dengan tantangan sektor industri di forum G20.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 05 April 2022  |  13:54 WIB
Setumpuk Tantangan Sektor Industri di Meja G20
Delegasi G20 dalam pertemuan pertama Trade, Investment, and Industry Working Group (TIIWG) G20 di Solo, Jawa Tengah pada 29-31 Maret 2022 - Nindya Aldila / Bisnis.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Rangkaian pertemuan G20 yang membahas perdagangan, industri, dan investasi menjadi pijakan pertama bagi sektor manufaktur sebagai prioritas di dalam forum internasional paling penting bagi Indonesia pada tahun ini.

Pertemuan pertama Trade, Investment, and Industry Working Group (TIIWG) G20 di Solo, Jawa Tengah pada 29-31 Maret 2022 telah usai digelar.

Lebih dari 41 delegasi dari berbagai negara dan organisasi internasional berdiskusi mengenai peran industri, investasi dan perdagangan sebagai kekuatan utama untuk mencapai pemulihan ekonomi global.

"Hanya dengan bekerja sama, kita dapat mempercepat pemulihan dan membangun ketahanan ekonomi dalam menghadapi dampak krisis saat ini maupun di masa depan," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Pura Mangkunegaran, Solo, Kamis (31/3).

Menperin ditemani oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X dan Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka dalam makan malam bersama.

Para tamu undangan disuguhi dengan pertunjukan wayang kulit “Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti” yang mengangkat tema perlunya kebaikan dan kerja sama untuk lepas dari keburukan dan keterpurukan.

Menperin mengungkapkan harapan besarnya bahwa isu industri dapat dilanjutkan ke pertemuan G20 pada tahun depan, mengingat besarnya kontribusi manufaktur hingga 14,5 persen terhadap PDB dunia.

“Kami sudah mendapatkan sinyal dari India yang akan memegang Presidensi selanjutnya, bahwa mereka akan melanjutkan pembahasan isu industri,” jelas Menperin.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Eko SA Cahyanto selaku Co-Chair TIIWG mengamini isu industri sebagai bagian dari isu yang dibahas di G20. Perlu diketahui, isu industri untuk pertama kalinya masuk ke dalam pembahasan G20.

"Mereka membahas dari berbagai aspek, mulai dari green economy, sumber daya manusia, hingga UMKM. Jadi kami optimistis ini akan bisa terus didiskusikan untuk menghasilkan deliverable yang implementatif dan berharga," ujar Eko.

Sebagai rangkaian pertemuan, delegasi juga diajak untuk melakukan tur di Kota Solo bersama dengan Walikota Gibran, ditambah dengan wisata singkat menggunakan kereta api uap Jaladara.

Kota Solo dipilih karena infrastrukturnya yang baik dan masih menunjukkan kearifan lokal yang orisinal di setiap sudutnya. Para delegasi juga diperkenalkan dengan warisan budaya asli Indonesia yakni batik di Museum Batik Danar Hadi.

Tantangan Ekonomi Global

Pada awal pembukaan pertemuan, Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Witjaksono selaku Chair TIIWG 2022 mengatakan semua peserta sidang memandang ekonomi global sudah mulai pulih, meskipun tidak merata.

Menurutnya, negara kurang berkembang masih dihadapkan dengan masalah akses vaksin dan lambatnya pertumbuhan ekonomi.

Dalam pertemuan itu, peserta sidang menyoroti isu kenaikan inflasi di tengah pemulihan ekonomi global. Inflasi terjadi karena kebutuhan suplai meningkat seiring dengan perbaikan permintaan.

Masalahnya, harga energi dan komoditas terus terkerek lebih cepat daripada ketersediaan pasokan.

"Sementara di satu sisi, pasokan tetap menjadi tantangan bersama. Belum lagi kondisi hubungan supply chain. Logistik juga menjadi issue yang akhirnya ikut memberikan tekanan terhadap beban inflasi," ujarnya kepada wartawan.

Delegasi yang terdiri dari anggota G20 dan organisasi internasional seperti World Bank, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), dan International Monetary Fund (IMF) sepakat perlunya kolaborasi multilateral yang lebih erat untuk memanfaatkan perkembangan digital demi mencapai pertumbuhan yang lebih inklusif.

"Termasuk bagaimana negara berkembang diberikan kesempatan meningkatkan rantai nilainya dalam tatanan rantai nilai global, di tengah situasi dinamis ini," ungkap Djatmiko.

Kendati hasil pertemuan ini baru akan terlihat setelah KTT G20 pada November nanti, forum ini sudah layak menjadi pijakan pertama bagi Indonesia untuk mengedepankan manufaktur sebagai roda utama pemulihan ekonomi dunia.

Namun, jalannya akan menantang. Kemacetan rantai pasok global masih menjadi hambatan utama bagi sektor manufaktur. Terlebih, ekonomi kedua terbesar di dunia, China mulai kembali menerapkan lockdown setelah kenaikan jumlah kasus Covid-19.

Purchasing Managers' Index (PMI) Caixin China General Manufacturing yang digunakan untuk mengukur kondisi manufaktur, menunjukkan PMI turun dari 50,4 pada Februari menjadi 48,1 pada Maret.

Hal ini terjadi sebagai dampak dari gelombang kasus Covid-19 yang kembali naik sehingga membuat hasil produksi atau output jatuh. Penurunan ini menjadi yang tercepat sejak Februari 2020.

Permintaan pasar melemah terutama pada barang konsumsi dan permintaan dari luar negeri juga turun drastis sehingga ukuran ekspor baru mencapai rekor terendah dalam 22 bulan terakhir.

Adapun IHS Markit mencatat PMI Indonesia naik tipis di posisi 51,3 pada Maret dari 51,2 pada Februari. Hal itu merepresentasikan adanya perbaikan kondisi di sleuruh sektor manufaktur Indonesia 7 bulan berturut-turut, meski tingkat perbaikan cenderung kecil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri g20 Pertemuan G20
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top