Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Waspada Angkutan Gelap Saat Mudik, Ini Saran MTI

Selama mudik Lebaran, angkutan-angkutan yang tidak resmi atau tidak memiliki izin itu yang menjadi persoalan, atau angkutan gelap.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 29 Maret 2022  |  21:08 WIB
Sejumlah calon penumpang bersiap menaiki bus di Terminal Bekasi, Jawa Barat, Senin (19/7/2021). Menurut data UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Terminal Bekasi, pemudik tujuan Sumatera dan Jawa jelang Hari Raya Idul Adha pada PPKM Darurat mengalami penurunan 70 persen dengan rata-rata jumlah penumpang sebanyak 250 orang per hari.  - Antara Foto/Fakhri Hermansyah/wsj.\r\n
Sejumlah calon penumpang bersiap menaiki bus di Terminal Bekasi, Jawa Barat, Senin (19/7/2021). Menurut data UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Terminal Bekasi, pemudik tujuan Sumatera dan Jawa jelang Hari Raya Idul Adha pada PPKM Darurat mengalami penurunan 70 persen dengan rata-rata jumlah penumpang sebanyak 250 orang per hari. - Antara Foto/Fakhri Hermansyah/wsj.\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA -- Penggunaan angkutan penumpang tidak resmi dan sepeda motor diperkirakan akan masih ada pada mudik tahun ini. Arus mudik tahun ini pun diperkirakan melonjak setelah dua tahun sebelumnya terdapat larangan mudik oleh pemerintah.

"Masih ada. Masih ada penawaran-penawaran angkutan mudik [yang tidak sesuai aturan dan syarat] yang bermain dengan oknum. Kalau tidak ada oknum, mana berani mereka [melanggar aturan] ," jelas Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno kepada Bisnis, Selasa (29/3/2022).

Untuk itu, Djoko menyarankan sejumlah hal seperti pengawasan penawaran angkutan gelap saat Lebaran yang bersebaran di internet hingga mendorong vaksinasi dosis ketiga (booster) jelang Idulfitri.

Adapun, pemerintah telah memperbolehkan mudik pada tahun ini dengan syarat telah mendapatkan vaksin booster. Namun, bagi yang belum booster, masih diizinkan mudik dengan persyaratan hasil tes Covid-19 antigen (dosis kedua) dan RT-PCR (dosis pertama).

Di sisi lain, Organisasi Angkutan Darat (Organda) menilai optimalisasi dan imbauan untuk menggunakan terminal keberangkatan angkutan massal bertujuan untuk menghindari keberangkatan dengan angkutan gelap atau tidak resmi.

Sekretaris Jenderal DPP Organda Ateng Aryono mengatakan keberangkatan dari terminal lebih baik karena syarat dan aturan perjalanan dari pemerintah tetap dijalankan sekaligus adanya pengawasan. Sementara itu, pengawasan dan pemberlakuan syarat dan aturan perjalanan tidak dijamin berjalan di angkutan tidak resmi atau gelap, serta sepeda motor.

"Angkutan-angkutan yang tidak resmi atau tidak memiliki izin itu yang menjadi persoalan, atau angkutan gelap. Mereka tidak bisa dijamin bahwa patuh dengan penyelenggaraan yang semestinya. Kita mengharapkan otoritas menjamin dan menjaga masyarakatnya," tutur Sekretaris Jenderal DPP Organda Ateng Aryono kepada Bisnis, Selasa (29/3/2022).

Ateng tidak menampik bahwa angkutan penumpang mudik yang tidak berangkat dari terminal akan lebih sulit untuk menerapkan aturan maupun syarat perjalanan mudik sesuai dengan instruksi pemerintah. Untuk itu, dia mengimbau agar pemerintah memastikan terminal-terminal yang akan melakukan keberangkatan angkutan telah memenuhi syarat dan aturan sebagaimana ditetapkan.

Di sisi lain, Ateng menilai kewajiban booster sebagai syarat mudik harus dibarengi dengan akses maupun ketersediaan vaksin booster yang lebih memadai jelang Ramadan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mudik Lebaran lebaran angkutan lebaran mudik
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top