Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perang Rusia hingga Lockdown China, Ini Penyebab Harga Minyak Tertekan

Kisruh Rusia dan Ukraina masih menjadi faktor pendorong fluktuasi harga minyak di pasar global.
Faustina Prima Martha
Faustina Prima Martha - Bisnis.com 28 Maret 2022  |  11:15 WIB
Anjungan minyak di Teluk Meksiko, AS -  Bloomberg
Anjungan minyak di Teluk Meksiko, AS - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia kembali merosot pada hari ini, Senin (28/03/2022). Harga minyak jenis Brent menyentuh level US$117,01/barel, turun 3,02 persen daripada level penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Sementara itu, minyak bumi jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) berada di harga US$110,69/barel alias berkurang 2,82 persen dibandingkan minggu lalu.

Meski mencatatkan penurunan harga, tetapi harga minyak jenis Brent dan WTI masih mencatatkan kenaikan 8,35 persen dan 7,24 persen dalam sepekan terakhir. Selama sebulan ke belakang, harga masih naik 19,36 persen dan 18,24 persen.

Kisruh Rusia dan Ukraina masih menjadi faktor pendorong fluktuasi harga minyak di pasar global. Setelah meluncurkan serangkaian serangan ke Ukraina, Rusia dijatuhkan sanksi energi oleh Amerika Serikat dan Inggris.

Akibatnya, kapal-kapal tanker Rusia yang membawa produk minyak semakin menyembunyikan pergerakan mereka, sebuah fenomena yang beberapa pakar maritim peringatkan bisa menandakan upaya untuk menghindari sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dipicu oleh invasi ke Ukraina.

Dalam pekan yang berakhir 25 Maret, setidaknya ada 33 kejadian yang disebut "aktivitas gelap" - beroperasi saat sistem on-board untuk mengirimkan lokasi mereka dimatikan - oleh kapal tanker Rusia, kata Windward Ltd., konsultan Israel. yang mengkhususkan diri dalam risiko maritim. 

Operasi gelap terjadi terutama di atau di sekitar zona ekonomi eksklusif Rusia. Sebenarnya, kapal komersial diwajibkan oleh hukum maritim internasional untuk mengaktifkan sistem identifikasi otomatis, atau AIS, saat berada di laut.

Menonaktifkan atau memanipulasi sistem identifikasi kapal berada di puncak praktik pengiriman menipu yang dikutip oleh Departemen Keuangan AS dalam sebuah nasihat Mei lalu untuk mengekang pengiriman ilegal dan penghindaran sanksi.

“Tidak ada alasan mengapa AIS mereka harus dimatikan. Investigasi [akan dilakukan] jika sebuah kapal terlibat dalam praktik pengiriman yang menipu terkait dengan rezim tertentu sangat penting untuk melindungi bisnis Anda dari berurusan dengan entitas yang terkena sanksi,” Manajer Windward, Risk & Governance Specialist Gur Sender, dilansir dari Bloomberg, Senin (28/03/2022).

Sementara itu, dari sisi fundamental, pasar khawatir ada risiko permintaan minyak bakal turun. Ini disebabkan oleh perkembangan di China.

Pandemi virus Corona kembali mengganas di Negeri Tirai Bambu. Dalam sepekan hingga 26 Maret 2022, rata-rata kasus positif harian Covid-19 tercatat 1.863 orang per hari. Sepekan sebelumnya bahkan mencapai 2.104,71 orang.

Kemarin, pemerintah daerah Shanghai mengungkap bakal memberlakukan lockdown. Warga dilarang keluar rumah, kecuali untuk urusan yang mendesak.

Padahal China adalah importir minyak terbesar dunia. Pada 2020, impor minyak mentah China tercatat 11,16 juta barel/hari dan produk minyak 1,71 juta barel/hari.

Lockdown di China tentu akan memukul permintaan, termasuk minyak. JP Morgan memperkirakan permintaan minyak China pada kuartal II-2022 adalah 15,8 juta barel/hari. Turun 520.000 barel/hari ketimbang proyeksi sebelumnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak china harga minyak mentah Perang Rusia Ukraina

Sumber : Bloomberg

Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top