Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IMF: Perang di Ukraina Bakal Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

Managing Director IMF Kristalina Georgieva mengatakan bahwa ekonomi dunia tetap akan tumbuh pada tahun ini meski di bawah 4,4 persen, seperti diprediksi sebelumnya.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 24 Maret 2022  |  00:06 WIB
Kantor pusat Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington D.C., AS -  Bloomberg / Andrew Harrer
Kantor pusat Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington D.C., AS - Bloomberg / Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA - International Monetary Fund (IMF) siap memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2022, setelah pecahnya perang di Ukraina.

Managing Director IMF Kristalina Georgieva mengatakan dalam sebuah wawancara dengan majalah Foreign Policy bahwa ekonomi dunia tetap akan tumbuh pada tahun ini meski di bawah 4,4 persen, seperti diprediksi sebelumnya.

IMF akan segera mengumumkan proyeksi terbarunya pada April setelah pertemuan musim semi tahunannya.

"Sejumlah ekonomi yang sudah pulih cepat dari Covid berada pada posisi yang lebih kuat," kata Georgiva seperti dikutip Bloomberg pada Senin (22/3/2022).

Amerika Serikat khususnya memiliki fundamental yang kuat. Namun, negara-negara yang belum bangkit dari krisis pandemi akan semakin terpuruk dengan kemungkinan risiko resesi.

Kondisi finansial yang semakian ketat seiring dengan kenaikan suku bunga dari Federal Reserve dan bank sentral lainnya di negara berkembang akan menjadi kejutan besar bagi negara lainnya.

Sekitar 60 persen negara berpendapatan rendah berada dalam tekanan utang atau mendekati kondisi tersebut, lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan pada 2015 silam.

Dalam kesempatan yang sama, First Deputy Managing Director IMF Gita Gopinath mengatakan IMF melihat adanya peningkatan fragmentasi dalam sistem pembayaran global sebagai salah satu konsekuensi dari perang.

Dolar AS sebagai mata uang dominan dalam sistem keuangan global tidak akan terganggu dalam waktu dekat. Namun, hal yang sama tidak terjadi pada mata uang lainnya.

“Kami cenderung melihat beberapa negara mempertimbangkan kembali seberapa banyak mereka memegang mata uang tertentu dalam cadangan mereka,” ujar Gopinath.

Padahal, lanjutnya, sudah jelas bahwa cara perdagangan energi telah berubah selamanya.

Kendati demikian, Gopinath menyebutkan bahwa dampak gagal bayar Rusia akan terbatas dan tidak akan menjadi risiko sistemi terhadap ekonomi global.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi imf
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top