Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terdampak Perang Rusia-Ukraina, BI Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,5 Persen Tahun Ini

Tiga sektor utama yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi 2022, di antaranya kinerja ekspor, konsumsi swasta, dan investasi nonbangunan, serta didukung oleh meredanya kasus Covid-19.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 22 Maret 2022  |  14:14 WIB
Terdampak Perang Rusia-Ukraina, BI Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,5 Persen Tahun Ini
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 akan mencapai kisaran 4,7 hingga 5,5 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pertumbuhan tahun ini diperkirakan lebih tinggi dari pertumbuhan tahun lalu yang mencapai 3,69 persen.

Tiga sektor utama yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi 2022, di antaranya kinerja ekspor, konsumsi swasta, dan investasi nonbangunan, serta didukung oleh meredanya kasus Covid-19.

“Oleh karena itu, pola pertumbuhan ekonomi tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Tahun lalu lebih banyak dari ekspor, tahun ini lebih didukung konsumsi swasta dan investasi nonbangunan,” katanya dalam Rapat Kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, Selasa (22/3/2022).

Namun demikian, Perry menyampaikan, BI terus mencermati pengaruh dari ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina ke perekonomian domestik.

BI melakukan asesmen pada tiga aspek. Pertama, dampak dari konflik Rusia dan Ukraina ke harga komoditas.

DI satu sisi, kata Perry, kenaikan harga komoditas global akan berdampak positif bagi kinerja ekspor Indonesia. Namun, dikhawatirkan kenaikan harga komoditas global akan merambat ke inflasi domestik.

Kedua, konflik Rusia dan Ukraina akan berdampak pada perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global, terutama pada negara mitra dagang utama Indonesia, seperti China, India, dan Amerika Serikat.

Ketiga, dampak konflik Rusia dan Ukraina ke jalur keuangan. Kondisi ini mendorong normalisasi kebijakan negara maju lebih cepat, terutama oleh Bank Sentral Amerika Serikat, the Fed.

“Esensinya, memang kita harus terus mendorong pertumbuhan ekonomi, tapi dalam waktu ke depan perhatian ke stabilitas perlu juga dipertimbangkan,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia Pertumbuhan Ekonomi Rusia
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top