Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terdampak Perang Rusia-Ukraina, BI Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,5 Persen Tahun Ini

Tiga sektor utama yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi 2022, di antaranya kinerja ekspor, konsumsi swasta, dan investasi nonbangunan, serta didukung oleh meredanya kasus Covid-19.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4/2020). Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4/2020). Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 akan mencapai kisaran 4,7 hingga 5,5 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pertumbuhan tahun ini diperkirakan lebih tinggi dari pertumbuhan tahun lalu yang mencapai 3,69 persen.

Tiga sektor utama yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi 2022, di antaranya kinerja ekspor, konsumsi swasta, dan investasi nonbangunan, serta didukung oleh meredanya kasus Covid-19.

“Oleh karena itu, pola pertumbuhan ekonomi tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Tahun lalu lebih banyak dari ekspor, tahun ini lebih didukung konsumsi swasta dan investasi nonbangunan,” katanya dalam Rapat Kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, Selasa (22/3/2022).

Namun demikian, Perry menyampaikan, BI terus mencermati pengaruh dari ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina ke perekonomian domestik.

BI melakukan asesmen pada tiga aspek. Pertama, dampak dari konflik Rusia dan Ukraina ke harga komoditas.

DI satu sisi, kata Perry, kenaikan harga komoditas global akan berdampak positif bagi kinerja ekspor Indonesia. Namun, dikhawatirkan kenaikan harga komoditas global akan merambat ke inflasi domestik.

Kedua, konflik Rusia dan Ukraina akan berdampak pada perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global, terutama pada negara mitra dagang utama Indonesia, seperti China, India, dan Amerika Serikat.

Ketiga, dampak konflik Rusia dan Ukraina ke jalur keuangan. Kondisi ini mendorong normalisasi kebijakan negara maju lebih cepat, terutama oleh Bank Sentral Amerika Serikat, the Fed.

“Esensinya, memang kita harus terus mendorong pertumbuhan ekonomi, tapi dalam waktu ke depan perhatian ke stabilitas perlu juga dipertimbangkan,” tuturnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper