Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemenhub Sebut 2 Transportasi Massal Ini Cocok di Kawasan Puncak, Apa Itu?

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebut ada dua moda transportasi massal yang memungkinkan untuk diterapkan di kawasan puncak.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 20 Maret 2022  |  18:35 WIB
Kemenhub Sebut 2 Transportasi Massal Ini Cocok di Kawasan Puncak, Apa Itu?
Sejumlah kendaraan melaju melambat di jalan raya Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (29/8/2021). Kepadatan kendaraan terjadi di jalur wisata Puncak, Bogor pada akhir pekan dan masa PPKM level 3 sehingga Satlantas Polres Bogor memberlakukan sistem satu arah secara situasional. ANTARA FOTO - Arif Firmansyah
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkap terdapat dua moda transportasi massal yang menjadi opsi untuk diterapkan di kawasan puncak guna mengatasi kemacetan di daerah tersebut.

Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kemenhub mengatakan entuk moda transportasi yang paling direkomendasikan di kawasan Puncak adalah kereta AGT (automated guideway transit) dan kereta gantung (cable car). Rekomendasi tersebut berasal dari hasil kajian yang dilakukan BPTJ pada 2021.

Direktur Prasarana BPTJ Jumardu menyampaikan kajian yang pernah dilakukan bersifat komprehensif. Transportasi massal berbasis rel yang paling memungkinkan untuk diterapkan dan mengatasi kemacetan lalulintas kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Oleh sebab itu, fungsi yang maksimal sebagau angkutan umum massal menjadi pertimbangan utama.

"Selain itu tentu harus mempertimbangkan karakteristik demand serta faktor teknis yang paling memungkinkan, sehingga akan menarik perhatian investor untuk mendanai," ujar Jumardi, dikutip dari siaran pers, Minggu (20/3/2022).

Selain rekomendasi moda transportasi umum massal, kajian BPTJ tahun lalu menemukan keseluruhan panjang lintasan angkutan berbasis rel tersebut adalah 27,88 kilometer (km) dengan terbagi ke dalam dua segmen. Segmen I yakni antara Sentul City-Taman Safari sepanjang 23,40 km menggunakan moda kereta AGT.

"Jadi wisatawan yang akan ke Puncak sudah dapat mengakses moda transportasi massal berbasis rel mulai dari Sentul City, untuk menghindari kemacetan karena penggunaan kendaraan pribadi," ujar Jumardi.

Sementara itu, lintasan rel segmen II adalah antara Taman Safari-Puncak sepanjang 4,48 km yang akan menggunakan Kereta Gantung. Lintasan Segmen II yang menggunakan kereta gantung lebih melayani wisatawan yang sudah berada di Puncak yang menginginkan wisata lanjut ke wilayah sekitar Puncak.

"Kalau melihat para wisatawan yang ke Puncak itu biasanya membawa banyak barang, sebab mereka umumnya menginap 1-2 malam beserta kerabat atau teman. Ini lebih tepat dilayani dengan Kereta AGT yang memungkinkan membawa barang sementara Kereta Gantung tidak memungkinkan untuk itu," jelas Jumardi.

Sebenarnya, lanjut Jumardi, terdapat jenis moda berbasis rel lain yang memiliki kemampuan mengangkut orang secara massal dengan barang bawaan yakni monorail dan LRT. Tetapi, LRT jauh lebih membutuhkan ruang dan biaya yang lebih besar.

Di samping itu itu, monorail memiliki keterbatasan pasokan karena secara global tidak cukup banyak yang menggunakan teknologi tersebut sehingga jaminan keberlanjutan suku cadang juga kurang terjamin.

"Untuk saat ini di dunia internasional, kereta AGT merupakan moda berbasis rel yang paling banyak digunakan untuk angkutan perkotaan sekaligus wisata. Teknologinya juga terus berkembang sehingga lebih terjamin kelangsungan pasokannya," tutup Jumardi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kemenhub transportasi massal puncak
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top