Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Berpotensi Raup Pendapatan Rp8.000 Triliun dari Perdagangan Karbon

Menko Airlangga menyampaikan, Indonesia memiliki potensi pendapatan sebesar US$565,9 miliar atau sekitar Rp8.000 triliun dari perdagangan karbon dari hutan, mangrove dan gambut.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 15 Maret 2022  |  14:34 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan sambutan saat pembukaan pembukaan perdagangan Bursa di BEI, Jakarta, Senin (3/1 - 2021). Bisnis
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan sambutan saat pembukaan pembukaan perdagangan Bursa di BEI, Jakarta, Senin (3/1 - 2021). Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia berpotensi menghasilkan kredit karbon yang dapat ditransaksikan di tingkat global untuk pencapaian target penurunan emisi di banyak negara, lantaran memiliki hutan dan lautan yang luas.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, Indonesia memiliki potensi pendapatan sebesar US$565,9 miliar atau sekitar Rp8.000 triliun dari perdagangan karbon dari hutan, mangrove dan gambut.

Hingga saat ini, harga jual karbon dunia berkisar antara US$5-10 per ton CO2. Harga jual karbon juga menjadi lebih tinggi setelah Hasil Kesepakatan COP-16, dimana semakin meningkatkan permintaan global terhadap kredit karbon.

Setidaknya, terdapat lima sektor penyumbang emisi karbon di Indonesia, yaitu kehutanan dan lahan, pertanian, energi dan transportasi, limbah, serta proses industri dan penggunaan produk.

"Berbagai kebijakan telah disiapkan untuk menanggulangi emisi karbon di berbagai sektor tersebut," kata Airlangga mengutip siaran pers, Selasa (15/3/2022).

Di bidang pertanahan, kebijakan yang disiapkan antara lain restorasi gambut, rehabilitasi mangrove, dan pencegahan deforestasi menjadi lahan pertanian.

Di bidang persampahan, termasuk pengelolaan sampah melalui ekonomi sirkular.

Selanjutnya, di sektor fiskal mencakup penerapan pajak karbon dan penghapusan subsidi energi secara menyeluruh pada 2030.

Kemudian, kebijakan di bidang energi  dan transportasi misalnya dengan beralih ke kendaraan listrik hingga 95 persen dari total kendaraan dan menggunakan Energi Baru dan Terbarukan mendekati 100 persen pada tahun 2060.

Berkaitan dengan Energi Baru dan Terbarukan, Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia sudah menerapkan program mandatori biodiesel B30.

"Program tersebut telah berhasil meningkatkan penggunaan energi terbarukan, mengurangi emisi karbon, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani kecil," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

karbon emisi karbon airlangga hartarto perdagangan karbon
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top