Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DMO Minyak Sawit 30 Persen, Pasokan Bahan Baku Minyak Goreng Bakal Mandek?

GIMNI khawatir DMO minyak sawit naik 30 persen akan menyebabkan pasokan bahan baku minyak goreng mandek.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 09 Maret 2022  |  22:56 WIB
DMO Minyak Sawit 30 Persen, Pasokan Bahan Baku Minyak Goreng Bakal Mandek?
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO - Muhammad Bagus Khoirunas
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengkhawatirkan manuver Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi yang belakangan menaikkan besaran domestic market obligation atau DMO menjadi 30 persen justru berimbas pada macetnya pasokan bahan baku minyak goreng ke produsen dalam negeri.

Sahat menilai kebijakan itu berpotensi membuat para eksportir minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya menahan diri untuk ekspor lantaran potensi rugi yang semakin lebar akibat naiknya kewajiban pasokan bahan baku dalam negeri itu. Alasannya, selisih harga CPO internasional dengan domestic price obligation atau DPO terlalu jauh.

Adapun harga CPO Dumai pada Selasa (8/3/2022) sebesar Rp17.651 per kilogram atau sempat mengalami penurunan sebesar 3,28 persen dari torehan Rp18.250 pada Selasa (1/3/2022). Kendati demikian harga DPO CPO dipatok sebesar Rp9.300 per kilogram dan DPO Olein mencapai Rp10.300 per kilogram untuk dipasok ke dalam negeri.

“Itu yang membuat mereka makin malas ketika DMO dinaikkan 30 persen itu akan memperbesar kerugian mereka, saya melihat ini akan mandek total, saya yakin eksportir tidak mau menanggung rugi yang sedemikian besar,” kata Sahat melalui sambungan telepon, Rabu (9/3/2022).

Konsekuensinya, kata Sahat, pasokan bahan baku minyak goreng untuk industri bakal menyusut seiring dengan meningkatnya DMO kepada eksportir. Di sisi lain, kinerja ekspor bakal turut tersendat akibat potensi kerugian yang semakin lebar dari pemberlakuan DMO 30 persen tersebut.

Berdasarkan data statistik Industri Minyak Sawit Indonesia 2022, total ekspor CPO dan produk turunannya mencapai 2,17 juta ton pada Januari 2022 atau turun 11,7 persen jika dibandingkan dengan torehan Desember 2021 sebesar 2,46 juta ton.

Sementara itu, GIMNI bersama asosiasi industri sawit lainnya memperkirakan ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang Februari 2022 hanya menyentuh di angka 1,6 juta ton atau turun 26,26 persen secara bulanan.

“Apalagi ada DMO 30 persen akan makin menciut ekspor dan pasokan ke dalam negeri karena untuk mencapai administrasi domestik itu tidak mudah dari pabrik ke distributor lalu ke ritel itu beberapa minggu baru dapat dokumennya, belum yakin juga apa dapat persetujuan ekspornya,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi memutuskan untuk menaikkan kembali besaran domestic market obligation atau DMO bahan baku minyak goreng menjadi 30 persen mulai Kamis (10/3/2022) besok. Langkah itu diambil setelah harga minyak goreng dalam negeri tetap tertahan tinggi kendati intervensi pemerintah sudah dilakukan sejak akhir tahun lalu.

“DMO ini akan kami naikkan dari 20 persen hari ini menjadi 30 persen untuk besok pagi untuk memastikan adanya stok yang cukup untuk kebutuhan dalam negeri,” kata Lutfi saat konferensi pers daring, Rabu (9/3/2022).

Lutfi menerangkan kebijakan ini mesti diambil kendati adanya permintaan yang besar terhadap minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dalam negeri dari pasar internasional. Dia mengatakan dirinya tidak ingin ambil pusing ihwal potensi kenaikan harga minyak nabati dunia akibat pembatasan ekspor CPO lewat kenaikan besaran DMO tersebut.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), total ekspor CPO dan turunannya sudah mencapai 2.771.294 ton selama 14 Februari hingga 8 Maret 2022. Sementara porsi DMO untuk kebutuhan industri dalam negeri mencapai 573.890 ton.

Adapun Kemendag sudah menerbitkan 126 persetujuan ekspor kepada 54 eksportir setelah implementasi kebijakan DMO itu sejak 14 Februari lalu. Alokasi DMO itu meliputi RDB Palm Olein sebanyak 463.886 ton dan CPO mencapai 110.004 ton.

Kemendag melaporkan minyak goreng curah dan kemasan hasil DMO itu sudah tersalurkan sebanyak 415.787 ke pasar hingga Selasa (8/3/2022). Artinya, distribusi minyak goreng murah hasil DMO itu sudah melebihi perkiraan kebutuhan konsumsi satu bulan yang mencapai 327.321 ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak sawit minyak goreng
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top