Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bandara Kertajati Kini Punya Bengkel Pesawat, Sudah Tepatkah?

Pengamat mengatakan Bandara Kertajati memang harus mencari pendapatan non-aero dan melakukan diversifikasi aktivitasnya.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 04 Maret 2022  |  20:24 WIB
Petugas melakukan rutinitas pemeriksaan di selasar Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Rachman
Petugas melakukan rutinitas pemeriksaan di selasar Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Strategi pengelola Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat dalam mendatangkan investor untuk membangun bengkel pesawat (Maintenance Repair and Overhaul/MRO) dinilai tepat untuk menghidupkan bandara yang tergerus jumlah penumpangnya imbas pandemi.

Pemerhati penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (JAPRI) Gerry Soedjatman menilai Bandara Kertajati memang harus mencari pendapatan non-aero dan melakukan diversifikasi aktivitasnya.

Selain itu, kata dia, lahan di bandara banyak dan cocok untuk membangun MRO dan pusat kargo. Namun, untuk merealisasikannya, bandara Kertajati juga harus didukung oleh fasilitas-fasilitas pendukung. Hal itu karena di sekitar bandara, tidak ada kota besar.

“Strategi untuk membuka MRO dan cargo center adalah strategi yang paling tepat untuk sementara dibandingkan dengan berharap bandaranya ramai penumpang. Pengembangan untuk one-stop facility-nya juga tepat,” katanya, Jumat (4/3/2022).

Tak hanya soal bengkel pesawat, rencana pembangunan airport transit hotel, shopping mall juga dapat dimanfaatkan bagi orang-orang yang bekerja di sekitar lingkungan. Sehingga nantinya bisa mendapatkan akses ke layanan-layanan tersebut. Keberadaan fasilitas tersebut pada akhirnya nanti juga bisa menurunkan tingkat keengganan maskapai untuk terbang ke wilayah tersebut.

Sejauh ini, Gerry menilai pasar MRO masih berpeluang untuk berkembang tetapi tentunya masih akan memberatkan dalam pertumbuhan jangka pendek akibat pandemi. Dia berpendapat pembangunan pusat MRO baru dari nol di Kertajati akan memakan waktu sekitar 1-2 tahun, yang diharapkan selama jangka waktu tersebut pandemi juga turut mereda.

Sementara itu, sebagai pusat kargo, bandara Kertajati juga memiliki peluang untuk tumbuh lebih besar. Hal itu lantaran kondisi Bandara Kertajati yang masih fleksible dalam pengaturan slot penerbangan. Berbeda kondisinya dengan Bandara Soekarno – Hatta yang saat ini sudah padat dari sisi pergerakan udara.

“Soekarno-Hatta ini, ujung – ujungnya juga kalau cargo berkembang, kena tumpang tindih rebutan slot dengan penerbangan penumpang.Kalau di Kertajati, ini gak jadi masalah,” jelasnya.

Gerry mencermati, tantangan ke depennya agar bisnis MRO dan logistic di bandara KJT bisa terus berkelanjutan adalah meyakinkan pengguna jasa untuk merasa nyaman di kawasan tersebut. Hal itus juga sudah tepat dilakukan dengan pengembangan hotel, mall, food court, dan fasilitas layanan lainnya, di atau sekitar bandara.

Seperti diketahui, ACN Aero Teknik, anak perusahaan Asia Cargo Network menginvestasikan dana senilai US$10 juta atau senilai kurang lebih Rp143,9 miliar (dengan asumsi kurs Rp14.391/US$) untuk membangun fasilitas bengkel pesawat di bandara Kertajati, Jawa Barat.

CEO Asia Cargo Network Group Marco Isaak menjelaskan ada dua kesepakatan yang diteken antara perusahaan dengan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB), sebagai pihak yang mengoperasikan Bandara Internasional Kertajati, Jawa Barat

Kesepakatan pertama, tuturnya, terkait dengan rencana pembangunan fasilitas Maintenance Repair and Overhaul (MRO) di Bandara Internasional Kertajati. Sedangkan perjanjian kedua adalah untuk pengembangan fasilitas one-stop experience termasuk airport hotel transitshopping mall, food court dan exhibition center di fasad gedung bandara seluas 15.000 meter persegi.

Marco menyebut pembangunan Kertajati Aircraft Maintenance menjadi hanggar MRO pertama yang ada di Bandara Internasional Kertajati, dan fasilitas hanggar kedua di Jawa Barat setelah Bandung.

“Dibangun di atas lahan seluas 9 hektar, Asia Cargo Network telah menyepakati investasi awal sebesar US$10 juta untuk melaksanakan konstruksi tahap pertama yang ditargetkan selesai dalam delapan bulan ke depan,” ujarnya, Jumat (4/3/2022).

Menurutnya investasi ini juga sejalan dengan rencana strategis untuk memperluas kapasitas bandara Kertajati tidak hanya sebagai hub perjalanan di Jawa Barat tetapi juga meningkatkan kemampuan MRO di Jawa Barat. Oleh karena itu Asia Cargo Network akan menjadi bagian integral dari rencana ekspansi pada fase pertama.

Sementara itu, pada tahap kedua, dengan luas area seluas 5 hektar akan dikembangkan untuk meningkatkan dan menambah lebih banyak pertumbuhan hangar. Investasi lanjutan bakal dilakukan pada tahun-tahun mendatang.

Dia memperkirakan pasar MRO di Indonesia tumbuh sebesar 9,2 persen setiap tahun selama tiga tahun ke depan. Pembangunannya diharapkan bisa menjadi game changer untuk penerbangan dan logistik.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sekitar 46 persen pesawat di Indonesia melakukan kegiatan MRO di luar negeri, sehingga membuka ruang untuk tumbuh di pasar domestik. Dengan menumbuhkan kapabilitas MRO di luar Jakarta dan ke arah barat juga akan berimbas terhadap efisiensi biaya yang ditanggung oleh maskapai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bandara bandara kertajati bengkel pesawat
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top