Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wah, Ternyata Kebanyakan Milenial Tidak Mandiri Beli Rumah

Hasil survei Indonesia Property Watch menunjukkan bahwa kebanyakan milenial ternyata tidak mandiri ketika membeli rumah. Bagaimanapun, milenial merupakan pasar besar bagi bai pengembang perumahan.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 24 Februari 2022  |  14:10 WIB
Suasana pembangunan rumah subsidi di Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/1/2021). Bisnis - Abdurachman
Suasana pembangunan rumah subsidi di Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/1/2021). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Selama ini kaum milenial digadang-gadang sebagai pasar terbesar bagi pasar residensial terutama rumah tapak. Meski tidak keliru, ternyata lebih dari 50 persen milenial yang telah memiliki rumah memerlukan bantuan orang tua.

Data itu terungkap dari hasil survei Indonesia Property Watch (IPW). Chief Executive Officer IPW Ali Tranghanda menyebutkan bahwa hanya 40,95 persen dari yang telah mempunyai hunian yang benar-benar menggunakan uang sendiri untuk membeli rumah.

Hasil survei IPW memperlihatkan bahwa sekitar 39,05 persen dari milenial yang sudah memiliki rumah ternyata masih dibantu oleh orang tua mereka baik dalam hal uang muka atau sebagian cicilannya.

Bahkan, ada pula orang tua yang membelikan properti sepenuhnya untuk anaknya sebesar 12,38 persen. Sisanya tidak membeli properti karena memiliki warisan dari orang tuanya.

Sumber: Indonesia Property Watch

Berdasarkan survei tersebut, milenial yang aktif membeli rumah atau properti berasa di kisaran usia 27 sampai 39 tahun dengan penghasilan rata-rata Rp8,5 juta per bulan.

Memang tingkat penghasilan ini mungkin tergolong tinggi saat ini dibandingkan penghasilan rata-rata milenial yang diperkirakan penghasilannya Rp6 juta hingga Rp7 juta per bulan. “Namun, begitulah faktanya, hanya mereka dengan penghasilan itu yang diperkirakan sanggup untuk membeli properti saat ini,” kata Ali.

Harga properti yang dibeli pun bervariasi dengan komposisi terbesar di kisaran harga Rp500 juta hingga Rp1 miliaran sebesar 37,8 persen, diikuti harga properti Rp300 juta–Rp500 jutaan 28,51 persen, harga di atas Rp1 miliar 22,98 persen, dan terkecil untuk harga properti di bawah Rp300 juta.

Yang menjadi pertanyaan, lanjut Ali, bagaimana dengan gaji Rp8,5 juta bulan dapat membeli properti seharga Rp500 juta bahkan Rp1 miliar.

Dengan gaji Rp8,5 juta per bulan mereka hanya bisa mencicil sepertiga dari penghasilan tersebut atau kira-kira Rp2,5 juta sampai Rp3 juta bulan yang berarti hanya properti Rp300 juta–Rp400 juta saja yang sebenarnya bisa mereka beli.

Hal ini ternyata terjawab dengan profil status perkawinan para milenial ini. Sebesar 38,79 persen milenial yang membeli properti adalah mereka yang telah berkeluarga dengan minimal memiliki satu orang anak.

Sementara itu, bagi keluarga muda yang belum memiliki anak persentasenya pun cukup besar yaitu sebesar 30,17 persen. Artinya, sebagian besar milenial membeli rumah saat mereka sudah menikah dan dari sisi penghasilan digabungkan, sehingga bisa membeli rumah yang lebih besar.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti perumahan generasi milenial
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top